Showing posts with label Nasionalisme. Show all posts
Showing posts with label Nasionalisme. Show all posts

Tuesday, October 28, 2014

Jokowi : Sleeping With The Enemy

 
Di tahun 1991 ada film berjudul Sleeping With The Enemy. Film yang dibuat dengan genre drama romantis. Ceritanya cukup asik disimak, namun saya lebih tertarik pada judulnya, "Sleeping With The Enemy". Judul cerita ini akan menarik dan bisa jadi akan menjadi kisah nyata di Indonesia.
 
Mengutip management change nya Lewin, frees- unfrees - change - refrees. Tahan perubahan dinamika Indonesia pasca pemilu laksanya es yang membeku (frees) antara KMP dan KIH. Kemudian mulai berubah mencair (un frees) saat Jokowi melakukan safari politik ke Abu Rizal Bakri dan Prabowo. Dilanjutkan langkah berikutnya dengan perubahan (change) dinamika Indonesia setelah Prabowo bertemu JK dan menyatakan bahwa mereka satu kapal. Tinggal satu tahap lagi (refrees) hingga membuat dinamina Indonesia semakin menyenangkan.
 
Prabowo dan koalisi nya (Koalisi Merah Putih) sudah menasbihkan diri bahwa mereka akan menempati posisi oposisi. Dan tentunya Jokowi akan sangat bersyukur dengan adanya Prabowo di sudut tersebut. Bukankah sebagai seorang muslim, Jokowi akan mengikuti sunah Nabi untuk mencari cermin? Dan dengan feedback yang baik akan membuat Jokowi semakin matang dan berkualitas memimpin Indonesia.
 
Kejelasan posisi Prabowo dan koalisinya sebagai oposisi tentunya akan baik bagi Jokowi. Dengan kejelasan posisi mereka, Jokowi sudah bisa melakukan pemetaan resiko yang matang. Logikanya jika seorang petualang melihat dengan jelas di depannya ada Macan yang mengaum, maka petualang tersebut akan punya banyak rencana untuk bisa terhindar dari terkaman si Macan.
 
Sebaliknya, yang lebih berbahaya sebenarnya adalah Macan yang tidak terlihat dan kemudian tiba-tiba menyerang si Petualang. Itulah gambaran Sleeping With The Enemy.
Tentu nya orang akan sangat berhati-hati saat memilih teman tidur. Karena saat tertidur, orang akan berada di alam tak sadar. Pada fase ini orang yang tertidur sangat rentan untuk diserang secara psikisnya dengan stimulus yang menghipnotis. Bahkan dibeberapa film dikisahkan salah satu cara cuci otak dilakukan saat korbannya tidur.
 
Saat tertidur juga orang sangat rawan diserang serangan fisik. Tentu saja karena orang yang tertidur tidak bisa membalas apa-apa.
 
Bisa dipastikan saking berhati-hati nya memilih teman tidur maka orang yang akan dipilih pun pastinya orang yang dipercaya. Dan Koalisi Indonesia Hebat adalah teman tidur yang dipilih oleh Jokowi.
 
Jika diibaratkan Jokowi tidur di sebuah ruangan dengan KIH, dan KMP sebagai oposisi tidur diruang lain. Bisa jadi Jokowi sudah menyiapkan dengan well prepare cara agar KMP tidak melakukan serangan saat mereka tidur. Di saat yang bersamaan bisa jadi musuh Jokowi sebenarnya ada di ruangannya sendiri. Musuh itu bernama KIH
 
Bukankah saat Jokowi tidur bisa terganggu dengan intervensi bernama "ngorok". Atau bisa jadi gangguan tidur Jokowi oleh musuhnya berasal dari "ngolet" nya KIH yang tidur disampingnya, hingga tangannya tak sengaja memukul Jokowi. Atau saat berganti posisi, kaki mereka menendang Jokowi.
 
Anda bisa mengartikan apapun atas "ngorok", "ngolet", atau "berpindah posisi". Bisa jadi berupa mengintervensi autonomy presiden untuk menentukan menterinya. Atau bisa berupa tidak kritis dan tajam lagi atas kebijakan yang diambil Jokowi.
 
Sepertinya budayakan Sujiwo Tedjo mulai melihat hal ini. Tak heran dalam Tweet nya terakhir Sujiwo Tedjo menulis "Pemimpin bertangan besi mematikan nyali. Pemimpin yang dinabikan mematikan nalar".
 
Dan bisa jadi kematikan seseorang bukan ditangan musuh yang jelas posisi nya sebagai musuh. Namun ditangan teman yang sebenarnya musuh. Bukankah ada pepatah lama mengatakan "Monyet tidak jatuh karena angin kencang. Monyet jatuh karena angin semilir"
 
Berkah selalu
N Kuswandi

Monday, October 13, 2014

Penghargaan KIH Kepada KMP

 
"Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh", begitulah bunyi peribahasa. Dan "Persatuan Indonesia" begitulah bunyi sila ketiga Pancasila. Memang dengan bersatu mampu menjadikan orang biasa menjadi hebat dan orang hebat menjadi orang luar biasa.
 
Presiden terpilih kita nampaknya sangat memahami sila ketiga dan peribahasa tadi. Buktinya pasca kemenangannya di pilpres, Jokowi langsung merubah slogan nya dari "Salam Dua Jari" menjadi "Salam Tiga Jari".
 
Tak heran jika Jokowi ingin segera mempraktekan sila ketiga Pancasila. Langkah pertamanya untuk mewujudkan mimpinya dengan berdamai dengan lawan koalisi saat pemilu presiden, Koalisi Merah Putih.
 
Agar mau bersatu membangun Indonesia dipancing anggota Koalisi Merah Putih dengan jabatan menteri. Mungkin bagi Jokowi "yang terpenting Indonesia bersatu, saya menjadi martir melanggar janji kampanye saya tidaklah masalah".
 
Setidaknya, PPP sudah menerima posisi calon wakil MPR, hasil tawaran dari Koalisi Indonesia Hebat. Pergerakan berikutnya bisa jadi anggota Koalisi Merah Putih benar-benar menerima tawaran Jokowi.
 
Tiba-tiba saya teringat kata-kata senior saya sewaktu bekerja di department CDI perusahaan pertambangan. Dia berkata "Memelihara Harimau itu harus memberi makan setiap hari, saat makanannya habis dan tidak ada lagi, kita lah yang diterkam". Bagi dia, Harimau adalah simbol duri dalam daging organisasi, dan makan adalah simbol penghargaan transaksional (barang, jabatan, dst)
 
Sebagai duri tentu ingin segera dicabut, pertanyaannya bagaimana? Jika cara menghilangkan duri dalam organisasi dengan memberikan mereka makan yang terjadi saat makanan habis yang memberi makan yang diterkam. Saat Jokowi sudah tidak memberikan "makan" pada KMP maka Jokowi lah yang diterkam.
 
Bahaya penghargaan transaksional kedua adalah selalu minta lebih. Anggap saja penghargaan transaksional yang diberikan adalah menteri, bisa jadi saat ini mengenyangkan. Namun karena sifat penghargaan transaksional yang selalu minta lebih, maka bisa dipastikan dikemudian hari jabatan menteri itu sudah dianggap hal biasa. Bisa jadi dulu dikasih satu menteri sudah puas. Dikemudian hari, dua orang menteri lah yang akan memuaskan.
 
Kampanye Jokowi sebenarnya sangat menarik. Alih-alih membagi menteri untuk berkoalisi, kesatuan visi yang menjadikan Indonesia hebat berkongsi. Kalau memang Koalisi Merah Putih tidak satu visi, kenapa tidak memberikan penghargaan lain. Bukankah Jokowi terkenal dengan kehebatannya melobi, baik saat di Solo ataupun Jakarta?
 
Berkah selalu
N Kuswandi

Friday, October 10, 2014

Nabi Dimusuhi Di Negeri nya Sendiri


Maka Yesus berkata kepada mereka: Seorang nabi dihormati dimana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya. Markus 6:4
Dengan tafsir yang bebas, Nabi bisa diartikan sebagai orang-orang yang hebat, orang-orang yang memiliki mimpi dan orang-orang yang diakui memiliki prestasi. Kata-kata itu sedikit banyak masuk akal juga. Tidak sedikit orang-orang berprestasi dari Indonesia yang lebih memilih berhijrah ke luar negeri, ke tempat orang-orang lebih menghargai prestasinya.
Sebut saja Sehat Sutardja, pria berusia 49 Tahun ini memilih berhijrah ke Amerika Serikat dan menjadi orang terkaya sedunia no. 300 versi Majalah Forbes. Anak bangsa lain yang diakui di luar negeri namun di caci di Indonesia adalah Sri Mulyani. Di hina karena kebijaksanaan nya di kasus century, namun di luar negeri diakui sebagai menteri terbaik yang dimiliki dunia. Bahkan, Sri Mulyani diangkat sebagai direktur pelaksana, karena prestasinya menangani krisis ekonomi, menerapkan reformasi, dan memperoleh respek dari kolega-koleganya dari berbagai penjuru dunia.
Begitu juga dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dibalik begitu banyak nya dukungan di pemilu presiden 2004 (69.266.350 orang) dan 2009 (73,874,562 orang), SBY banyak dikecam oleh media. Dari media lah kemudian rakyat mendapatkan sikap nasionalisme nya terhadap pemerintahan SBY, dimusuhi di negara nya sendiri.
Padahal sebuah kejadian yang sama selalu bisa dilihat dari sisi-sisi yang berbeda. Saat SBY sebagai Ketua Umum Demokrat yang memosisikan diri ditengah diantara koalisi. Bergerak secara isu, tidak memihak pada koalisi Merah Putih maupun Koalisi Indonesia Hebat. Bisa saja kita melihat dari sisi negative sebagai ketidaktegasan SBY menempatkan idealismenya. Padahal disisi yang lain, kita bisa melihat keputusan itu sebagai kekuatan penyeimbang yang baik untuk kedua koalisi.
Atau sikap SBY saat memutuskan sesuatu, layaknya kasus yang sedang hangat tentang kenaikan BBM yang diminta presiden terpilih, Jokowi. Jika dilihat dari satu sisi orang akan melihat SBY menghindar mengambil keputusan (decision dogging) untuk menaikan BBM di era pemerintahannya. Atau jika kita ingin membuka pandangan kita lebih lebar lagi, sebenarnya SBY tidak ingin meninggalkan beban eksekusi bidang strategic di tengah jalan.
Sayangnya, media kita lebih senang hanya memandang sebuah kejadian dari satu sudut pandang saja. Netralitas jurnalisme yang menjadi kode etik pun entah hilang kemana. Bahkan kita sering kali mendengar istilah “menggoreng berita”, berita yang sederhana bisa menjadi luar biasa ditangan jurnalis yang hebat. Pada akhirnya, bukan logika murni yang ditangkap masyarakat, namun persepsi yang menimbulkan bibit-bibit kekecewaan. Tak heran kemudian jurnalis senior semisal Andy F Nova sempat memilih menggantung pena nya, menghindari dunia yang dicintai nya, karena hanya berisi berita-berita negative tentang Indonesia. Beruntung masih ada orang yang memahami Andy F Noya dengan memberikan fasilitas acara sendiri untuk bisa memberitakan berita secara netral lewat acara Kick Andy.
Nampaknya benar perkataan Benedict Anderson, bahwa nasionalisme kita sekarang lahir dari berita media massa. Benedict Anderson menyebutnya sebagai printed nationalism.
Berbeda dengan cara pandang jurnalisme yang melihat di satu sisi, layaknya mengguatkan ayat Al Kitab, bahwa nabi tidak dihormati di negeri nya sendiri, organisasi dan negara diluar negeri berlomba-lomba memberikan penghargaan pada SBY. Sebut saja penghargaan dari Appeal of Conscience Fondation (AFC) dengan penghargaan World Statesman Award. Sebuah pencapaian atas penciptaan iklim kerukunan antar umat.
Dunia juga mengakui pencapaian Indonesia dibidang pertumbuhan ekonomi. Selama tahun 2004 sampai tahun 2014, Indonesia tumbuh menjadi negara dengan GDP 15 besar dunia. Kebanggaan itu makin terasa saat Indonesia masuk menjadi negara G-20. Padahal di tahun 2008, dunia sedang mengalami krisis ekonomi global. Di dalam gelombang krisis itu, perekonomian Indonesia dibawah pemerintahan SBY  malah bertumbuh 6% dan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar no. 2 setelah Tiongkok (7.7%).
Dan tentunya masih banyak lagi prestasi Indonesia selama kepemimpinan SBY yang diakui dunia internasional.
Satu hal yang menurut saya menarik adalah perjuangan SBY untuk melanjutkan cita-cita bung Karno yang menginginkan Indonesia berperan di dunia Internasional. Akhirnya datang lagi Moment saat Indonesia yang diwakili SBY akhirnya bisa berpidato lagi dihadapan negara-negara sedunia (PBB). Pada bulan September kemarin lah, Indonesia ditunjuk sebagai Ketua Komite 1 Majelis Umum PBB untuk sesi ke-67, dalam Sidang Majelis Umum PBB
Tentunya penghargaan dari dunia luar itu juga menuai pro dan kontra, layaknya semua tindakan yang dilakukan SBY.  Ada yang tidak setuju, SBY tidak layak menerima penghargaan itu, dan tentunya ada yang setuju saat SBY dinobatkan menerima penghargaan-penghargaan itu.
Saya meyakini perbedaan pro dan kontra ini berasal dari sudut pandang “ukuran” yang berbeda. Bisa jadi ukuran para pemberi penghargaan adalah dengan membandingkan satu negara dengan negara lain. Sedangkan orang lain mengukur ketidaklayakan itu dari ukuran praktis yang berbeda.
Dibalik pro dan kontra itu yuk kita tarik ke point of view yang lebih tinggi. Bukan atas nama SBY nya yang menerima penghargaan, namun Indonesia nya yang menerima penghargaan. Dan saya yakin atas nama nasionalisme kita terhadap negara ini, siapa yang tidak bangga dengan Indonesia yang semakin di “hargai” di luar negeri? Dan apa yang lebih penting dari pada “Harga Diri”?
 
Berkah selalu
N Kuswandi

Friday, August 29, 2014

Kapitalisme - Globalisasi - Kebanggaan




Bertambah satu lagi iklan aneh versi pemerintah dalam daftar saya, Iklan tentang "MEA - Masyarakat Ekonomi ASEAN". Behind keanehan iklan MEA, tetap ada respect dari saya atas niat baik pemerintah menginformasikan globalisasi ASEAN di tahun 2015.
Pilihan pemerintah memang cuma dua, menginformasikan globalisasi agar masyarakat mempersiapkan diri. Walaupun dengan konsekuensi bagi orang-orang yang tidak siap akan stress. Dan pilihan kedua, menahan informasi dan biarkan kondisi mengalir apa ada nya. Kondisi akan aman terkendali, walaupun akhirnya saat globalisasi 2015 ada orang-orang yang sock.
 
Selain iklan MEA untuk menyiapkan masyarakat Indonesia akan globalisasi, ada peristiwa lain yang terjadi di Sekaran dekat dengan Universitas Negeri Semarang (UNNES). Beberapa bulan yang lalu, warga Sekaran mendemo Alfamart dan Indomart. Penyebabnya, toko-toko milik warga lokal Sekaran yang sempat berjaya saat saya masih kuliah di UNNES semakin lama semakin tergerus dengan menjamurnya Alfamart dan Indomart.
Dua peristiwa ini jika mau dihubungkan bisa dilihat dari tiga sudut. Sudut pertama adalah sudut kapitalisme yang bisa saja "Alfamart dan Indomart" disebut sebagai perusahaan yang mengambil keuntungan tanpa melihat stakeholder di sekeliling nya.
 
Sudut pandang ke dua adalah sudut pandang Globalisasi. Seperti pesan yang ingin disampaikan pemerintah lewat iklan MEA. Secara bertahap Globalisasi akan masuk ke Indonesia. Tahap pertama adalah tahap connecting antar negara. Di tahap pertama ini negara-negara ASEAN akan sangat mudah masuk ke Indonesia. Selama punya passport tidak perlu membayar visa. Harapan negara pendapatan wisata semakin besar. Efek tahap satu bisa jadi hanya dialami sedikit orang.
 
Tahap dua globalisasi adalah multinasional company. Di tahap ini, MEA akan berdampak pada kemudahan perusahaan asing untuk berinvestasi di Indonesia. Jika saat ini perusahaan-perusahaan besar yang masuk di Indonesia, maka dengan MEA bisa jadi Mie Ayam di samping rumah adalah Francishe dari Thailand. Fase dua ini dampak nya akan mulai terasa bagi dunia usaha.
 
Tahap ketiga globalisasi adalah multinasional people. Di fase ketiga ini seakan tidak ada batasan warga negara. Kalau saat ini Indonesia mengekspor TKI ke Malaysia. Bisa jadi dengan globalisasi tahap ke tiga, Indonesia mengekspor para profesional dan sebaliknya, Malaysia yang mengekspor para profesional di Indonesia. Efek tahap ketiga ini akan sangat terasa. Kalau sebelum globalisasi persaingannya hanya dengan sesama penduduk Indonesia maka setelah MEA persaingannya lintas ASEAN.
 
Sekarang kita hubungkan dua peristiwa "MEA & Penolakan Alfamart-Indomart", jika persaingan antar badan usaha yang dimiliki sesama WNI saja tidak siap, pertanyaannya apa yang akan terjadi saat tahap kedua globalisasi terjadi. Bisa jadi warung kelontong samping rumah kita adalah franchise dari Filipina. Contoh nya saja kedai "Kebab Turki", Gerobak franchise ini sudah mengekspansi ke ASEAN. Salah satu merk yang menjadi kebanggaan Indonesia.
 
Perubahan pasti terjadi, dan sebenarnya kita bisa memilih reaksi nya. Reaksi pertama dengan menyalahkan perubahan. Menyalahkan pemerintah yang menandatangani pakta Globalisasi, hingga warung makan samping rumah saja milik orang asing. Atau bereaksi mengontrol apa yang bisa dikontrol. Seperti menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan.
Sudut pandang ketiga tentang hubungan dua peristiwa tadi adalah sudut pandang "kebanggaan". Bisa jadi benar Alfamart dan Indomart adalah perusahaan Kapitalis. Tapi di satu sisi saat globalisasi tahap kedua benar-benar terjadi, bisa jadi Alfamart dan Indomart akan mengekspansi ke luar negeri dan membanggakan Indonesia.
 
Berkah selalu
N Kuswandi

Tuesday, August 19, 2014

Monumen Interdependent Dari Bung Karno



Merayakan ulang tahun kemenangan kemandiriannya di tanggal 17 Agustus 2014 kemarin membuat Indonesia semakin dewasa. Bukan hanya mengejar kemenangan pribadi nya dengan "independent day" namun mulai memenangkan orang lain. Bertumbuh dari dependent menjadi interdependent.

Romantika itu terasa saat tadi malam, secara tidak sengaja melewati monumen yang dibangun Bung Karno. Walaupun monumen itu sekarang dipakai para pelayan kita, wakil rakyat yang bisa jadi tidak kita suka. Namun, getaran monumen bernama Gedung DPR/MPR itu masih terasa kemegahannya.

Membeku otak ini saat loncatan memori untuk apa monumen ini didirikan. Bangunan ini semestinya menjadi simbol awal tumbuh  nya kedewasaan interdependent Indonesia.

Gedung ini semestinya menjadi anchor Indonesia untuk menjadi pusat dunia. Bukan nya malah berhenti bertumbuh dan membiarkan negara lain menjadi pusat dunia.

Gedung itu semestinya menjadi gedung pusat NATO, salah satu mimpi Bung Karno untuk membantu Indonesia bertumbuh menjadi dewasa "interdependent".

Saat gedung itu benar-benar digunakan selayaknya mimpi Bung Karno, maka negara-negara lain akan saling bersimbiosis mutualisme "interdependent" dengan Indonesia.

Simbiosis mutualisme lewat interdependent tadi akan diwujudkan dengan saling menang-menang, bersinergi dan memahami negara lain untuk dipahami.

Dengan interdependent bayangan gelap globalisasi yang tidak terbendung lagi datangnya bisa dihilangkan. Optimisme yang akan muncul, hilanglah pesimisme. Negara dengan kedewasaan "independent day" menjadikan semangat globalisasi sebagai semangat kompetisi, yang juara akan mengguasai dan yang tidak punya kompetensi silahkan minggir tersingkir.

Berbeda dengan negara yang interdependent. Motor penggerak globalisasi yang dimiliki negara interdependent bukanlah kompetisi yang menjadikan negara nya mengalahkan negara lain. Namun negara interdependent memiliki motor untuk memahami negara lain hingga mampu bersinergi maju bersama dan saling memenangkan dengan negara yang dimasuki.

Negara dengan interdependent, tidak mendirikan perusahaan multinasional untuk berkompetisi mengalahkan perusahaan lokal. Namun negara interdependent membangun perusahaan multinasional untuk memahami perusahaan lokal hingga mampu bersinergi maju bersama dan saling memenangkan dengan negara yang dimasuki.

Alangkah indah nya jika mimpi kedewasaan interdependent nya Bung Karno bisa diwujudkan. Dan alangkah indah nya jika kelebatan monumen yang baru saja lewati tiba-tiba berubah nama dari Gedung DPR/MPR menjadi Gedung NATO

Berkah Selalu
N Kuswandi

Monday, August 18, 2014

Independent Day To Interdependent Day

17 Agustus 2014 jam 10.00, proklamasi kemerdekaan itu dibacakan Soekarno - Hatta. Tak terasa sudah 69 tahun text proklamasi itu ditulis, sudah terlihat gurat usia yang mulai menua. Walaupun begitu, text itu masih saja terasa mengandung getaran emosional yang sangat dalam saat dibaca. Text independent day yang akan selalu dipelihara dan dipupuk hingga menjadi gelombang di samudra, menjadi hutan di kebun belakang.
 
Ada yang memupuk nya sebagai ritual upaca bendera. Ada yang mempupuk dengan mendaki gunung. Ada yang memupuk dengan lomba-lomba yang menyatukan warga. Apapun bentuk nya, asal kan positive, sah-sah saja. 
 
Dan dengan kata, independent lah tulisan ini akan dimulai. Seandainya negara Indonesia ini adalah manusia bernama Bang Indonesia, maka independent adalah sebuah proses menuju dewasa. Steven Covey menulis dalam buku nya Seven Habit Higly Effective People menulis perjalanan kematangan atau kedewasaan seseorang dimulai dari fase dependence - independent - interdependent.

Selama 350 tahun, kehidupan Bang Indonesia terjajah atau tergantung "dependence" kepada izin Belanda. Ketergantungan "dependence" itu masih harus berlanjut selama 3 tahun oleh Jepang.
 
Fase awal ini laksana seorang bayi yang menggantungkan semua kebutuhannya kepada orang tuanya.
 
Di tanggal 17 Agustus 1945, akhirnya Bang Indonesia menemukan kemenangan pribadi nya, dengan mengubah keadaan. Ketergantungan "dependence" itu dibalik dengan telak, hingga akhirnya Bang Indonesia menjadi pribadi yang independent, menjadi pribadi yang merdeka.
 
Fase kedua ini seperti remaja yang mampu memenuhi kebutuhannya tanpa menunggu orang tua nya. Yuforia, remaja memang sangat manis untuk dirasakan dan pahit untuk ditinggalkan. Bisa jadi itu juga yang dirasakan Bang Indonesia, dalam usianya yang ke 69 tahun, bisa jadi Bang Indonesia masih merasa menjadi seorang remaja. Menikmati mabuk masa muda.
 
Tentunya remaja bukanlah fase terakhir bertumbuh, ada satu fase lagi yang harus dilewati, fase kedewasaan. Tahap itu adalah tahap interdependent - saling tergantung. Sebuah fase untuk saling bersimbiosis mutualisme, bekerjasama saling menguntungkan.
 
Dan sebenarnya Bung Karno, sudah merumuskan dengan bagaimana caranya Bang Indonesia mampu bertumbuh semakin dewasa di tahap interdependent. Rumusan bertumbuh nya kedewasaan Bang Indonesia, ditegaskan Bung Karno dallam tulisannya berjudul “Nasionalisme, Islamisme, Marxisme “.
 
Dalam tulisannya yang dimuat secara berseri di jurnal Indonesia muda tahun 1926, Bung Karno secara tegas menjelaskan membuka interdependent Indonesia, dengan keinginan bekerjasama kepada semua negara. Interdependent nya Indonesia hanya dibatasi oleh negara yang menganut kolonialisme dan imperialisme.

 
Bung Karno menasehati Bang Indonesia, andikan Bang Indonesia saling bergantung atau interdependent dengan kaum penganut kolonialisme maka Bang Indonesia akan kembali pada tahap awal kedewasaan, tahap dependence. Kembali di jajah secara tidak sadar 
 
Kaum kolonialisme erat kaitannya dengan kapitalisme yakni suatu sistem ekonomi yang dikelola oleh sekelompok kecil pemilik modal yang tujuannya adalah memaksimalkan keuntungan. Tak segan-segannya para kaum kapitalis mengeksploitasi orang lain. Bukannya simbiosis mutualisme saling menguntungkan yang terjadi, tapi simbiosis parasitisme.
 
Bung Karno menilai kemiskinan yang diderita Bang Indonesia dilatarbelakangi oleh sistem kapitalisme. Kolonialisme adalah anak dari kapitalisme, dan kolonialisme melahirkan imperialisme. Karena nya, Bung Karno lagi-lagi menasehati Bang Indonesia untuk semakin tumbuh dewasa dengan menghadapi kapitalisme.
 
Berkah selalu
N Kuswandi

Monday, August 19, 2013

Nasionalisme "Indonesia Merdeka"


 
Melanjutkan tulisan "Reaktansi Psikologis", sekarang mari kita juga melihat para penganut paham "Indonesia sudah merdeka" dari sudut pandang berbeda. Mereka juga sebenarnya juga memiliki nasionalisme yang besar. Namun mereka nampaknya menggunakan pendekatan yang berbeda dibanding para penganut paham "Indonesia belum merdeka". Bukan nya menggunakan hukum reaktansi psikologis, para penganut paham "Indonesia sudah merdeka" sepertinya menggunakan konsep spiritualitas untuk menginternalisasi dan menumbuhkan nasionalisme bangsa Indonesia.

Sepertinya mereka percaya, nasionalisme bisa ditumbuhkan dengaan mudah jika menggunakan pendekatan lebih halus seperti model penanaman spiritualitas saat kita masih kecil. Diawali dari unsur membenarkan (syahadat, pembaptisan, dll), kemudian diperkuat keyakinan nya dengan ritual (sholat, kebaktian, puasa, dll), dan diingatkan dengan symbol (tasbih, rosario, dll). Kampanye masif pun dilakukan untuk membuktikan pendekatan mereka. Diawali dari kampanye "Indonesia merdeka" untuk menumbuhkan keyakinan bahwa Indonesia memang benar-benar sudah merdeka.

Tidak lupa mereka juga menggunakan symbol-symbol untuk mengkampanyekan Indonesia merdeka. Salah satu nya adalah symbol HUT kemerdekaan Indonesia versi tidak resmi, milik Wahyu Aditya, Presiden KDRI (Kementerian Design Republik Indonesia - http://kdri.web.id/). Wahyu Aditya menggunakan pendekatan psikologis sederhana, sejatinya orang lebih cepat belajar melalui gambar. Selain Wahyu Aditya, design dari "Dam I Love Indonesia (http://www.dskon.com/damn-i-love-indonesia/)" milik DJ MTV idola ABG, Daniel Mananta juga menyumbang unsur symbol untuk menginternalisasi kampanye "Indonesia sudah merdeka".

Kedua hal tadi (menumbuhkan keyakinan Indonesia sudah merdeka, dan membuat simbol-simbol) belum cukup rasanya untuk menginternalisasi nasionalisme. Perlu satu unsur lagi untuk memperkuat nilai-nilai nasionalisme dengan unsur ritual. Salah satu ritual paling umum yang dilakukan oleh semua bangsa adalah upacara. Sayang nya sudah banyak orang yang kehilangan "fill" nya dari upacara yang biasa dilakukan. Para penganut "Indonesia sudah merdeka" pun membuat inovasi agar ritual upacara bisa menimbulkan gereget lebih bagi yang mengikutinya. Salah satu inovasi nya dengan mengubah upacara bendera dalam bentuk on line indonesiaoptimis.org. Model upacara ini ternyata menurut generasi yang akrab dengan teknologi mampu mengantarkan haru biru tersendiri bagi mereka.

Mungkin begitu lah sudut pandang para penganut paham "Indonesia sudah merdeka". Dua catatan "Nasionalisme dengan Reaktansi Psikologi" dan "Menginternalisasi Nasionalisme dg Konsep Spiritualitas" semoga menghentikan perdebatan kita dan mulai mengisi kemerdekaan. Bukan lagi apa yang sudah diberikan negara (yang diwakili pemerintah), tapi apa yang sudah kita berikan pada negara?

Berkah selalu
Anker-Andi Keren

Sunday, August 18, 2013

Nasionalisme dengan Reaktansi Psikologis



Seperti tahun-tahun kemarin HUT RI selalu menjadi perdebatan. Apakah benar Indonesia sudah merdeka? Para pendukung "Indonesia Belum Merdeka", kasarnya seperti mempertanyakan apa yang sudah dilakukan pendahulu kita untuk Indonesia? Pertanyaan sebaliknya muncul dari para pendukung "Indonesia sudah Merdeka", "Apa yang sudah dilakukan untuk mengisi kemerdekaan?"

Memandang dari sudut berbeda, mungkin para penganut paham "Indonesia belum Merdeka" sebenarnya memiliki nasionalisme yang lebih baik dari pada para penganut "Indonesia sudah Merdeka". Mereka sepertinya adalah para ahli psikologi yang sepakat menggunakan hukum "reaktansi psikologis" untuk membuat bangsa Indonesia yang mulai luntur nasionalisme nya kembali mencintai bangsanya. Layaknya hukum reaktansi psikologi yang mendorong seseorang melakukan sesuatu dengan mengatakan kebalikan nya, para penganut paham "Indonesia belum Merdeka" berhasil melakukan kampanye nya dengan baik.

Mendengar gagasan-gagasan "Indonesia belum Merdeka" membuat banyak orang tergugah untuk membuktikan gagasan "Indonesia belum Merdeka" itu salah. Berbagai treat, kegiatan, diskusi dilakukan dengan effort besar untuk membuktikan Indonesia memang sudah Merdeka. Nasioanlisme mereka pun mulai bangkit.

Masih memandang dari sudut yang berbeda, selain digunakan oleh para penganut paham "Indonesia belum Merdeka", ternyata hukum "reaktansi psikologis" juga digunakan oleh Guru Bangsa, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Walaupun dikenal sebagai presiden yang kontroversial, namun dalam waktu tiga tahun, Gur Dur mampu membuat 10 perubahan besar. Kekontroversialan Beliau, memang jika dipandang dengan sudut yang berbeda, bisa jadi memang sedang menggunakan "reaktansi psikologi". Coba kita ingat pernyataan-pernyataan kontroversial Beliau, tentang kerjasama dengan Israel, G30S/PKI, atau pernyataan-pernyataan kontroversial lain. Jika kita menggunakan hukum "reaktansi psikologi", kira-kira apa yang sebenarnya diinginkan oleh Gur Dur?


Berkah selalu
Anker-Andi Keren

Tuesday, August 13, 2013

Tipping Factor Change Agent

Sehari sebelum penyerangan, di Kota kecil Boston, tanggal 18 April 1775, para serdadu Inggris mendiskusikan rencana mereka untuk menggempur Baltimore. Tanpa mereka sadari, seorang anak kecil menguping pembicaraan mereka, dan secepat kilat ia berlari memberitahukan informasi ini kepada seorang perajin perak bernama Paul Revere. Tidak menunggu lama, Paul Revere segera berdiskusi dengan William Dawis untuk menyebarluaskan berita rencana penyerangan tersebut.  Mereka pun bergerak ke arah yang berlawanan, paul Revere bergerak menuju kea rah Barat menuju kota Boston Dan William Dawis bergerak menuju ke kota-kota yang terletak di sebelah barat Lexington.

 
Dalam dua jam, Paul Revere telah menempuh 13 mil melewati Charlestown, Medford, North Cambridge, Menotomy, dan Lexington. Berita itu dengan cepat menyebar seperti virus. Berita itu sampai di Lincoln, Massachussets pada pukul satu malam. Di pukul tiga pagi, Sudbury juga sudah mendengar berita yang dibawa Paul Revere, dan berita itu juga sampai di Andover (40 mil barat laut Boston) pukul lima pagi, dan di Ashby pukul sembilan pagi. Di setiap kota yang dilewati, lonceng gereja dibunyikan dan genderang perang ditabuh bertalu-talu.

 
Di pihak Inggris, mereka tidak tahu kalau rencana yang mereka susun sudah bocor, sehingga pada tanggal 19 April 1775, tentara Inggris bergerak menuju Baltimore. Berkat informasi yang diberikan Paul Revere, rakyat Baltimore sudah siap memberikan perlawanan. Ketika pasukan Inggris memulai long march mereka, di sepanjang jalan mereka menghadapi perlawanan sengit yang terorganisir dengan baik. Puncaknya, di Concord pasukan Inggris mengalami kekalahan telak.

 
Bagaimana dengan William Dawis, dengan pesan, jarak, kota, dan jumlah orang yang dihubungi kurang lebih sama dengan Paul Revere tetapi jumlah orang yang menanggapi pesan tersebut ternyata tidak sama. Tentara Inggris dengan mudah menaklukan kota-kota yang menjadi tanggung jawab William Dawis.  Kisah Paul Revere ini mengi kemudian menginspirasi sejarawan Malcolm Gladwell. Dalam bukunya Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference, Gladwell menulis “hal kecil yang dilakukan oleh orang-orang kunci (agent of change) berdampak besar pada kemenangan perubahan”. Dan bukankah perubahan yang dibawa Nabi Muhammad SAW pada awalnya juga dimulai dari 10 assabiqul awwalun (Khadijah, Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Tholib, Abu Bakar As Shidiq, Bilal Bin Rabah, Ummu Aiman, Hamzah bin Abdul Muntholib, Abbas bin Abdul Muntholib, Abdullah bin Abdul Asad, dan Ubay bin Kaab). Indonesia juga memiliki Paul Revere, sebut saja tokoh yang sedang moncer saat ini seperti Jokowi Gubernur Jakarta, Tri Rismawati Walikota Surabaya, Ahmad Hermawan Gubernur Jawa Barat, dan Ridwan Kamil Walikota Bandung.

 
Sebagai agent of change, mereka hanya melakukan 20% tindakan namun mampu menginspirasi orang lain untuk 80% kontribusi sisanya. Karena para agent of change seperti Paul Revere adalah orang-orang yang mampu mempengaruhi orang lain sebagaimana suatu virus bekerja dengan dampak penyebaran yang tinggi, anggaplah untuk kiasan ini adalah virus positif".

 
Malcom Gadwel juga mengidentifikasi ada tiga hukum yang harus diikuti untuk menjadi seorang change agent. Hukum pertama adalah The Law of Few – Hukum Tentang yang Sedikit”. Semakin sedikit orang maka tanggungjawab akan terfokus pada sedikit orang, berbeda ceritanya jika banyak orang yang terlibat dalam perubahan maka tanggungjawab nya akan menyebar. Dengan kata lain, dengan tanggung jawab yang dipikul oleh banyak orang akan membuat setiap orang mempersepsi dirinya hanya memikul tanggung jawab yang kecil karena tanggungjawab nya sudah terbagi dengan orang-orang yang lain. Semakin merasa sedikit akhirnya merasa bahwa dirinya tidak penting, dan bagiannya tidak terselesaikan. The Law of Few menuntut sedikit orang tersebut tentunya adalah orang-orang pilihan yang dipilih dengan dua kata kunci, memiliki kemampuan dan kemauan untuk mempengaruhi orang. Mampu saja tanpa diikuti kemauan tidak akan terjadi, begitu juga sebaliknya.

 
Hukum kedua untuk menjadi agent of change adalah The Stickiness Factor” atau faktor kelekatan. Seorang change agent yang baik akan selalu memiliki role model yang menjadi faktor kelekatan nya. Selama change agent memiliki role model maka seorang change agent tidak akan pernah berhenti berjuang sampai mendekati sosok ideal seperti yang dijadikan role model. Selain harus menjadi memiliki role model, seorang agent of change juga harus menjadi stickiness factor bagi orang lain, atau menjadi role model bagi orang lain. Tugas utama change agent untuk merubah mind set maupun perilaku seseorang hanya bisa dilakukan dengan mudah saat dia menjadi role model bagi orang lain.

 
Dan hukum ketiga untuk menjadi change agent adalah “The Power of Context – Kekuatan Konteks”.  Sesuatu yang berhasil di suatu tempat tidak dapat dikopi dengan sendirinya. Masing-masing memiliki konteknya sendiri, atau ashabul nuzul (asal muasal) munculnya. Kontek adalah situasi atau kondisi dimana sebuah kejadian berada , karena konteknya berbeda maka perlu ditreatment treatment nya juga harus berbeda. Dengan kata lain hukum “The Power of Context” menjadikan change agent harus mampu menganalisa kontek atau akar dari setiap permasalahan. Contoh sederhananya, tentang kesuksesan David Gunn dan William Bratton dalam membasmi kejahatan di New York. Sebagai change agent, kedua orang tersebut menganalisa dan menemukan akar permasalahan kejahatan yang terjadi dimulai dari membiarkan pengerusakan-pengerusakan kecil. Maka kedua orang tersebut mulai mengatasi kejahatan dengan karena menangani grafiti yang tersebar di penjuru kota. Hanya dengan melakukan itu, David Gunn dan william Bratton ternyata mampu menurunkan angka kejahatan di New York secara drastis.

 
Sumber yang dipakai:
Khasalli, Rhenald. 2007. Re-Chode Your Change DNA. PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

Gladwell, Malcolm. 2000. The Tipping Point : How Litte Think Can Make a Big Difference. Little Brown : United State of America

Tuesday, August 6, 2013

Jendela Rusak Indonesia

Indonesia negeriku, dikelilingi oleh negara-negara tetangga. Mulai pojok paling utara ada Malaysia, kemudian Singapura di pojok paling barat, Papua Nugini di belahan Timur, dan Australia dan Timor-Timor di pojok paling selatan. Mari kita ingat hubungan Indonesia dengan para negara tetangga. Selain hubungan baik yang sudah lama berjalan, beberapa waktu terakhir ini marak d...iberitakan di media masa hubungan Indonesia dengan para tetangga. Setelah Negara yang mengaku sebagai bangsa serumpun, Malaysia, sering kali berbuat nakal dengan memainkan emosi Indonesia melalui klaim-klaim kebudayaan dan kasus tenaga kerja Indonesia yang tidak segera berakhir. 

 Tetangga sebelah selatan negeri ini, Australia nampaknya juga tidak ingin ketinggalan ikut membuat gelombang dalam hubungan diplomasi dengan Indonesia. Tahun 2013 kemarin lewat dokumen rahasia US yang dibocorkan Edward Snowden, Sejak tahun 2009, Singapura melakukan penyadapan kepada presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, dan ibu Negara, Ani Yudhoyono, Boediono, Yusuf Kalla, Andi Malaranggeng, dan Andi Nor Patti. Dan Menariknya, PM Australia, Tony About, pada awalnya tidak mau meminta maaf atas kejadian tersebut. Ujung-ujungnya hubungan diplomatik Indonesia Australia pun renggang. Indonesia yang awalnya membantu Australia menjadi penjaga gerbang bagi para pencari suaka kemudian membuaka gerbangnya lebar-lebar. Australia merasakan pil pahit dengan melonjaknya para pencari suaka. Kisah ini belum berakhir, Australia kembali menguji Indonesia dengan mengusir para pencari suaka kembali keperairan Indonesia, padahal mereka sudah memasuki perairan Australia.
Bergeser ke tetangga kita diujung timur, Papua Nugini. Tanggal 9 Februari 2014 kemarin, lima kapal nelayan Indonesia dibakar oleh Papua Nugini Deference Force (PNG DF). Tidak cukup dengan membakar, PNG DF juga merampas Rp 750 juta dan menyeburkan 10 nelayan kelaut, dimana 5 diantara masih dinyatakan hilang. Saat ini, kepolisian Papua Nugini dikabarkan masih mengusut kasus tersebut.
Peristiwa lain di bulan Februari yang berhubungan dengan Negara tetangga adalah renggangnya hubungan bilateral Indonesia dengan Negara tetangga sebelah barat. Singapura memprotes Indonesia yang berencana memberi nama kapal perang yang baru dibeli dengan nama Usman – Harun, Dua nama tersebut, merupakan dua pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden 050/TK/1968. Usman bin Said dan Harun bin Muhammad Ali adalah prajurit KKO (kini Korps Marinir TNI AL) yang dihukum mati oleh Singapura karena mengebom gedung perkantoran di kawasan Orchard, MacDonald House, pada 10 Maret 1965. Australia menganggap dengan menggunakan nama Usman – Harun, Indonesia menguak luka lama.
Apakah Timor-Timor menjadi negara tetangga berikutnya yang akan menguji Indonesia? Kenapa Indonesia secara bertubi-tubi diuji oleh para Negara tetangga?
Teori Broken Windows mungkin bisa menjelaskan pertanyaan kedua, kenapa Indonesia secara bertubi-tubi diuji Negara-negara tetangga? Teori ini pertama kali dipopulerkan oleh James Q. William dan George L. Kelling di tahun 1982. James Q. William dan George L. Kelling merumuskan teori ini berdasarkan percobaan yang dilakukan Philip Zimbardo pada tahun 1969. Zimbardo melakukan percobaan untuk menguji sifat alami manusia dengan menempatkan dua mobil yang sama-sama tidak memiliki plat dan kap di dua tempat yang berbeda. Satu mobil ditaruh di daerah kumuh di Bronx, New York dan satu mobil lainnya ditaruh di daerah Palo Alto, California. Setelah tiga hari berselang, Zimbarno melihat, mobil yang berada di daerah Bronx sudah dicuri bagian-bagian berharganya, sedangkan mobil lainnya di Palo Alto sama sekali tidak disentuh oleh siapapun. Zimbardo kemudian mengambil palu dan memukulkannya ke mobil yang ada di Bronx. Melihat apa yang dilakukan Zimbardo, satu per satu orang yang kebetulan melintas juga mulai menghancurkan mobil itu dalam waktu beberapa jam saja.
  
James Q. William dan George L. Kelling kemudian merumuskan, jika sebuah bangunan dengan bagian jendela yang pecah tidak diperbaiki dan dibiarkan begitu saja, maka siapapun yang lewat cenderung menyimpulkan di rumah itu pasti tidak berpenghuni. Efek nya dalam waktu singkat akan ada lagi jendela yang dipecah, kemudian dilanjutkan dengan perusakan bagian bangunan yang lain dan anarki akan menyebar ke sekitar bangunan berdiri. Kesimpulannya, akibat dari sebuah ketidakteraturan yang diabaikan, seperti hal-hal yang semula dianggap remeh layaknya membiarkan sebuah kaca jendela yang pecah, akan mengakibatkan perbuatan lain yang serupa segera menyebar ke seluruh wilayah.
Hubungan Indonesia dengan para tetangga bisa jadi disebabkan ada nya jendela pecah di Indonesia yang belum diperbaiki. Jika kita analisa lebih dalam, jendela pecah ini berada di jendela hubungan antara Indonesia dengan Malaysia. Bagaimana tidak, Negara tetangga yang mengaku saudara serumpun ini memang sering kali menguji emosi bangsa Indonesia. Dan sudah menjadi rahasia publik, bagaimana presiden era reformasi merespon stimulus yang diberikan Malaysia. Bahkan di era presiden SBY, Dr. Marty M. Natalegawa, Manteri Luar Negeri Indonesia, selalu menjelaskan arah kebijakan luar negeri Indonesia dengan pernyataan “Million Friends, Zero Enemy”. Istilah itu memang benar adanya, namun juga ada istilah lain yang harus diingat oleh pemerintah Indonesia, “Bergaul dengan Pandai Besi, Bau Bakaran Api. Bergaul dengan Penjual Parfum, Bau Wangi”.