Tuesday, August 19, 2014

Monumen Interdependent Dari Bung Karno



Merayakan ulang tahun kemenangan kemandiriannya di tanggal 17 Agustus 2014 kemarin membuat Indonesia semakin dewasa. Bukan hanya mengejar kemenangan pribadi nya dengan "independent day" namun mulai memenangkan orang lain. Bertumbuh dari dependent menjadi interdependent.

Romantika itu terasa saat tadi malam, secara tidak sengaja melewati monumen yang dibangun Bung Karno. Walaupun monumen itu sekarang dipakai para pelayan kita, wakil rakyat yang bisa jadi tidak kita suka. Namun, getaran monumen bernama Gedung DPR/MPR itu masih terasa kemegahannya.

Membeku otak ini saat loncatan memori untuk apa monumen ini didirikan. Bangunan ini semestinya menjadi simbol awal tumbuh  nya kedewasaan interdependent Indonesia.

Gedung ini semestinya menjadi anchor Indonesia untuk menjadi pusat dunia. Bukan nya malah berhenti bertumbuh dan membiarkan negara lain menjadi pusat dunia.

Gedung itu semestinya menjadi gedung pusat NATO, salah satu mimpi Bung Karno untuk membantu Indonesia bertumbuh menjadi dewasa "interdependent".

Saat gedung itu benar-benar digunakan selayaknya mimpi Bung Karno, maka negara-negara lain akan saling bersimbiosis mutualisme "interdependent" dengan Indonesia.

Simbiosis mutualisme lewat interdependent tadi akan diwujudkan dengan saling menang-menang, bersinergi dan memahami negara lain untuk dipahami.

Dengan interdependent bayangan gelap globalisasi yang tidak terbendung lagi datangnya bisa dihilangkan. Optimisme yang akan muncul, hilanglah pesimisme. Negara dengan kedewasaan "independent day" menjadikan semangat globalisasi sebagai semangat kompetisi, yang juara akan mengguasai dan yang tidak punya kompetensi silahkan minggir tersingkir.

Berbeda dengan negara yang interdependent. Motor penggerak globalisasi yang dimiliki negara interdependent bukanlah kompetisi yang menjadikan negara nya mengalahkan negara lain. Namun negara interdependent memiliki motor untuk memahami negara lain hingga mampu bersinergi maju bersama dan saling memenangkan dengan negara yang dimasuki.

Negara dengan interdependent, tidak mendirikan perusahaan multinasional untuk berkompetisi mengalahkan perusahaan lokal. Namun negara interdependent membangun perusahaan multinasional untuk memahami perusahaan lokal hingga mampu bersinergi maju bersama dan saling memenangkan dengan negara yang dimasuki.

Alangkah indah nya jika mimpi kedewasaan interdependent nya Bung Karno bisa diwujudkan. Dan alangkah indah nya jika kelebatan monumen yang baru saja lewati tiba-tiba berubah nama dari Gedung DPR/MPR menjadi Gedung NATO

Berkah Selalu
N Kuswandi

Monday, August 18, 2014

Independent Day To Interdependent Day

17 Agustus 2014 jam 10.00, proklamasi kemerdekaan itu dibacakan Soekarno - Hatta. Tak terasa sudah 69 tahun text proklamasi itu ditulis, sudah terlihat gurat usia yang mulai menua. Walaupun begitu, text itu masih saja terasa mengandung getaran emosional yang sangat dalam saat dibaca. Text independent day yang akan selalu dipelihara dan dipupuk hingga menjadi gelombang di samudra, menjadi hutan di kebun belakang.
 
Ada yang memupuk nya sebagai ritual upaca bendera. Ada yang mempupuk dengan mendaki gunung. Ada yang memupuk dengan lomba-lomba yang menyatukan warga. Apapun bentuk nya, asal kan positive, sah-sah saja. 
 
Dan dengan kata, independent lah tulisan ini akan dimulai. Seandainya negara Indonesia ini adalah manusia bernama Bang Indonesia, maka independent adalah sebuah proses menuju dewasa. Steven Covey menulis dalam buku nya Seven Habit Higly Effective People menulis perjalanan kematangan atau kedewasaan seseorang dimulai dari fase dependence - independent - interdependent.

Selama 350 tahun, kehidupan Bang Indonesia terjajah atau tergantung "dependence" kepada izin Belanda. Ketergantungan "dependence" itu masih harus berlanjut selama 3 tahun oleh Jepang.
 
Fase awal ini laksana seorang bayi yang menggantungkan semua kebutuhannya kepada orang tuanya.
 
Di tanggal 17 Agustus 1945, akhirnya Bang Indonesia menemukan kemenangan pribadi nya, dengan mengubah keadaan. Ketergantungan "dependence" itu dibalik dengan telak, hingga akhirnya Bang Indonesia menjadi pribadi yang independent, menjadi pribadi yang merdeka.
 
Fase kedua ini seperti remaja yang mampu memenuhi kebutuhannya tanpa menunggu orang tua nya. Yuforia, remaja memang sangat manis untuk dirasakan dan pahit untuk ditinggalkan. Bisa jadi itu juga yang dirasakan Bang Indonesia, dalam usianya yang ke 69 tahun, bisa jadi Bang Indonesia masih merasa menjadi seorang remaja. Menikmati mabuk masa muda.
 
Tentunya remaja bukanlah fase terakhir bertumbuh, ada satu fase lagi yang harus dilewati, fase kedewasaan. Tahap itu adalah tahap interdependent - saling tergantung. Sebuah fase untuk saling bersimbiosis mutualisme, bekerjasama saling menguntungkan.
 
Dan sebenarnya Bung Karno, sudah merumuskan dengan bagaimana caranya Bang Indonesia mampu bertumbuh semakin dewasa di tahap interdependent. Rumusan bertumbuh nya kedewasaan Bang Indonesia, ditegaskan Bung Karno dallam tulisannya berjudul “Nasionalisme, Islamisme, Marxisme “.
 
Dalam tulisannya yang dimuat secara berseri di jurnal Indonesia muda tahun 1926, Bung Karno secara tegas menjelaskan membuka interdependent Indonesia, dengan keinginan bekerjasama kepada semua negara. Interdependent nya Indonesia hanya dibatasi oleh negara yang menganut kolonialisme dan imperialisme.

 
Bung Karno menasehati Bang Indonesia, andikan Bang Indonesia saling bergantung atau interdependent dengan kaum penganut kolonialisme maka Bang Indonesia akan kembali pada tahap awal kedewasaan, tahap dependence. Kembali di jajah secara tidak sadar 
 
Kaum kolonialisme erat kaitannya dengan kapitalisme yakni suatu sistem ekonomi yang dikelola oleh sekelompok kecil pemilik modal yang tujuannya adalah memaksimalkan keuntungan. Tak segan-segannya para kaum kapitalis mengeksploitasi orang lain. Bukannya simbiosis mutualisme saling menguntungkan yang terjadi, tapi simbiosis parasitisme.
 
Bung Karno menilai kemiskinan yang diderita Bang Indonesia dilatarbelakangi oleh sistem kapitalisme. Kolonialisme adalah anak dari kapitalisme, dan kolonialisme melahirkan imperialisme. Karena nya, Bung Karno lagi-lagi menasehati Bang Indonesia untuk semakin tumbuh dewasa dengan menghadapi kapitalisme.
 
Berkah selalu
N Kuswandi

Monday, August 11, 2014

Kemenangan Idul Fitri nya Ular - Ayam - Ulat

 

Kemenangan Idul Fitri memang relatif. Kalau di artikel Kemenangan Idul Fitri nilai relatif itu ditentukan dengan cerita saya tentang Anjing dan Belalang, di artikel ini hewan yang akan kita jadikan pelajaran adalah Ular - Ayam - Ulat.
 
Ketiga hewan tadi kalau diamati sebenarnya juga melakukan puasa. Dan kemenangan yang mereka dapatkan pun berbeda-beda. Hewan pertama adalah Ular. Puasa yang dilakukan Ular dilakukan saat Ular sedang mengganti kulit. Kemenangan puasa seekor Ular ditandai dengan semakin kuat nya racun yang dimiliki.
 
Kemenangan Ular adalah pertanda kemenangan keburukan. Setelah orang berpuasa, bukannya bertambah baik, keburukannya menutupi hati nurani nya. Dalam psikologi, orang-orang seperti ini menggunakan lapisan kepribadian paling dasar. Freud menyebutnya dengan Das Es.
 
Lapisan ini berada dalam lapisan ketidaksaran manusia. Wujudnya berupa kekuatan hidup yang berbentuk instink atau biasanya dikaitkan dengan nafsu hewaniah. Tujuan dari lapisan kepribadian Das Es ini hanya satu saja, yaitu mendapatkan kepuasan atau prinsip kepuasan (pleaure principle).
 
Simbol kemenangan puasa kedua, disimbolkan dengan Ayam. Puasa nya Ayam dilakukan saat mengerami telur nya. Selama 21 hari, Ayam berpuasa tidak makan dan minum sama sekali agar telur-telurnya selalu hangat dan anak nya pun lahir dengan selamat.
 
Setelah telur-telurnya lahir, Ayam pun menyelesaikan puasanya. Menariknya setelah puasanya selesai, Ayam kembali kebiasaan nya semula. Jika pada awalnya Ayam mencari makan di comberan, kembalilah lagi Sang Ayam ke comberan tersebut. Kemenangannya ditandai dengan hasil yang diperoleh.
 
Freud menyebut orang-orang seperti ini sebagai orang-orang yang didominasi aspek kepribadian Das Ich atau Ego. Lapisan kepribadian ini berfungsi menjaga keseimbangan antara dorongan Das Es dan dorongan dari lapisan teratas (Das Uber Ich). Orang-orang yang didominasi lapisan kepribadian ini terkesan menjadi manusia-manusia rasional yang berfokus pada hasil yang didapat.
 
Dan hewan terakhir yang menggambarkan kemenangan puasa adalah Ulat. Momen puasa yang dialami Ulat terjadi saat perubahan menjadi kepompong. Dan setelah puasa itu berakhir, Kepompong pun bertransformasi menjadi Kupu-Kupu. Dari seekor Ulat yang menjadi musuh petani, menjadi Kupu-Kupu yang membantu para Petani. Dari seekor Ulat yang dimusuhi para Wanita yang geli melihat tubuhnya. Menjadi Kupu-Kupu yang diburu para Wanita untuk dinikmati keindahannya.
 
Orang-orang seperti ini telah menemukan kemenangan sejati nya dalam Idul Fitri. Freud menyebutnya sebagai orang-orang yang didominasi lapisan kepribadian paling atas, Das Ueber Ich atau Super Ego. Lapisan ini adalah lapisan yang paling mulia, aspek moral yang menentukan benar atau salah, pantas atau tidak.
 
Dan kemenangan Anda bisa disimbolkan dengan apa? Apakah Anda lebih suka disebut Ular atau Ayam atau Kupu-Kupu?
 
Hu Allah Hu A'lam
 
Berkah selalu
N Kuswandi

Sunday, August 3, 2014

Kemenangan Idul Fitri ?


Setelah satu bulan berpuasa mempertebal character terbaik, saat nya merayakan kemenangan. Hampir semua umat Islam di Indonesia merayakan kemenangan itu di tanggal 29 Juli 2014. Menariknya kemenangan itu bisa dimaknai banyak hal bagi setiap orang. Kemenangan bagi satu orang menjadi kekalahan bagi ornag lain dan sebaliknya.
 
Kisah lomba loncat antara Anjing dan Belalang bisa menggambarkan persepsi kita akan kemenangan. Terkisahlah di sebuah hutan, hiduplah seekor Anjing yang sangat gagah. Kelebihannya adalah mampu melompat tinggi dan jauh. Setiap hari Sang Anjing melakukan kegiatan yang sangat disukainya, mengajak para hewan berlomba melompat.
 
Suatu hari bertemulah Sang Anjing dengan Belalang. Seperti biasa, Sang Anjing pun mengajak Sang Belalang bertanding meloncat. "Aku menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi diantara kita” kata Sang Anjing. Melihat nada sombong dari ajakan Sang Anjing, Belalang pun akhirnya mengiyakan tantangan Sang Anjing untuk memberi pelajaran pada Sang Anjing.
 
Sang Anjing kemudian menunjukan tempat bertanding, “Di depan sana ada pagar yang tinggi. Mari kita bertanding, siapa pun yang bisa melompati pagar tersebut, dia adalah pemenangnya". Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Anjing mendapat kesempatan pertama, Sang Anjing berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar yang setinggi orang dewasa tersebut tersebut.
 
Belalang kemudian mendapat giliran kedua melompati pagar. Dengan sekuat tenaga belalang tersebut melompat. Ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga perempat tinggi pagar tersebut. Belalang pun terjatuh kembali ke tempat semula. Tidak berputus asa dengan percobaan pertama, Belalang mencoba lagi, namun ternyata gagal pula.
 
Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata ,”Nah belalang, kamu kalah, akulah pemenangnya, aku lah juara lompat di hutan ini”. Belalang pun menjawab, “Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Perlombaan ke dua ini, saya yang akan menentukan tantangannya. Beranikah gak kamu ?” Merasa sudah diatas angin, Sang Anjing menjawab "Apapun tantangan nya, aku siap”. Belalang kemudian memberikan tantangannya, “Tantangan kedua ini sederhana. Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya akan diukur bukan dari seberapa tinggi melompat, tapi diukur dari berapa kali tinggi tubuhnya”.
 
Pertandingan pun dimulai. Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Setelah Anjing meloncat, Belalang mengukur tinggi loncatannya. Ternyata Anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi tubuhnya. Sang Belalang kemudian bersiap-siap meloncat. Lompatan belalang hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini.
 
Dengan kerendahan hati, kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum. “Hebat kamu Belalang. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini. Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih perlu mengadakan lomba ketiga”, kata si anjing. “Tidak perlu”, jawab si belalang. “Karena pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan standard perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan standard perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua saya yang menentukan, saya pula yang menang.
 
Hikmah dari cerita tersebut adalah kemenangan bukan ditentukan oleh standart orang lain. Standar kemenangan kita ditentukan oleh diri kita sendiri. Pertanyaannya adalah apa standar kemenangan Anda di puasa tahun ini dan seberapa Anda memenangkan standart Anda? Apakah Anda benar-benar layak merayakan kemenangan Idul Fitri ini atau sebenarnya Anda sedang merayakan kemenangan orang lain?
 
Hu Allahu A'lam
Berkah selalu
N Kuswandi

Sunday, July 20, 2014

Pengumuman Hasil Pilpres

 
Menanti pengumuman resmi KPU tentang hasil pemilu Presiden Indonesia, pada tanggal 22 Juli 2014. Perbedaan hasil Quick Count di beberapa televisi nasional memang membuat suasana politik Indonesia menjadi semakin memanas. Apalagi saat kedua calon presiden mendeklarasikan kemenangannya kepada publik, Indonesia laksana mempunyai dua orang presiden.
 
Sambil menunggu hasil resmi dari KPU tanggal 22 Juli 2014, diskusi kecil saya dan istri selalu mewarnai selepas berbuka puasa. Diskusi tentang ke"legowo"an mengakui kemenangan dan menjadikan kekalahan sebagai pelajaran. Dan berikut adalah rangkuman diskusi saya dengan istri.
 
# 1 WAJIB-WAJIB
Kewajiban pertama saya untuk memilih sudah saya lakukan
Kewajiban kedua saya adalah mendukung siapapun presidennya yang menang

Saya butuh presiden, tapi presiden saja tidak cukup untuk membangun Indonesia tanpa sinergi rakyat nya

Mange presiden superhero
 
#2 PYGMALION EFFECT
Saya percaya Pygmalion Effect - Apa yang kita pikirkan yang akan terjadi
Saya sudah memilih dan saat nya berfikit positif
"siapapun presidennya adalah orang baik yang akan membangun Indonesia dengan cara yang baik"

Sehingga saya siap dipimpin Prabowo ataupun Jokowi

Saya malah kawatir dengan pikiran-pikir
an negatif para pendukung kepada presiden sebelah

Piye jal kalau presiden yang tidak kita dukung yang benar-benar jadi presiden
Bisa jadi, karena pikiran buruk nya orang maka presiden berikutnya benar-benar menjadi buruk seperti pikiran orang

Sama-sama berpikir, saya memilih berpikir yang baik-baik saja

#3 THE MAP IS NOT YOUR TERITORY
Saya bukan orang fanatik pada satu orang kok
Kasihan orang-orang ini yang menghujat presiden fanatiknya ya ma

Ada istilah dalam NLP "THE MAP IS NOT YOUR TERITORY"
Dengan menggeser sudut pandang, ...

Kita bisa menjadi pendukung presiden yang terpilih kok ma

Change the map and you can change the word

 
#4 MENTAL KAYA
Option ini opsion yg belum teruji secara ilmiah. Tapi layak ditambahkan

 
Org bermental kaya melihat kemenangan dan kekalahan sebagai media bertumbuh
Orang bermental kaya melihat kekalahan dan kemenangan sebagai media belajar lebih dan lebih

Orang bermental miskin melihat kemenangan sebagai kesempatan menghina yang kalah
Orang bermental miskin melihat kekalahan sebagai kecurangan dan meratapi kekalahannya

Dan saya memilih sebagai orang "Bermental Kaya" yang siap dipimpin Prabowo atau Jokowi
Bagaimana dengan Anda?
 
#5 KHOIRUL UMUURI AWASATUHAA
Langsung teringat pesannya
Cak Nun "Diam saja, tidak usah berdebat, tidak usah menghebat-hebatkan siapa dan tidak perlu ikut menghina-hina siapa tetapi anda harus menjadi pengayom bagi bagi seluruhnya. Anda harus tetap menjaga cinta anda kepada Jokowi dan juga kepada Prabowo karena mereka adalah orang-orang Indonesia dan mereka adalah anak-anak Bangsa Indonesia, dan anda harus tetap berdiri ditengah di garis khatuslistiwa untuk mencintai mereka semua dengan cara mencintai yang searif-arifnya"

Anda mendukung siapapun, mau memuja siapapun, mau menghina siapapun saya ingatkan bahwa dari keseluruhan euphoria yang sedang anda rayakan mohon dicukupkan 5% saja, 95% sisanya anda persiapkan untuk kekecewaan-kekecewaan yang akan terjadi selanjutnya, siapapun Presidennya.
 
Khoirul umuuri awsatuhaa, bahwa yang terbaik adalah yang berada di tengah-tengah (secukupnya saja)
 
Semoga bermanfaat untuk menyikapi hasil resmi KPU
 
Berkah selalu
N Kuswandi

Wednesday, July 9, 2014

Hasil Survey Aspek Kepribadian Capres

 
Tanggal 3 Juli 2014, Laboratorium Psikologi Politik UI bekerjasama dengan HIMPSI Psikologi Sosial, HIMPSI Psikologi Klinis, dan Fakultas Psikologi Padjajaran merilis hasil survery yang diklaim sebagai survey aspek kepribadian Capres.

Survey ini adalah proaktif para psikolog untuk melihat dinamika politik pemilihan presiden yang sedang menghangat. Dan selama proses pemilihan presiden di Indonesia, nampaknya ini adalah survey psikologis pertama kali yang dilakukan oleh kalangan psikolog.
 
Berikut adalah hasil survey yang dilakukan para psikolog tersebut.
 
Tentunya dalam membaca hasil survey harus diikuti dengan netralitas dan analisa setajam "silet". Dan berikut adalah beberapa komentar saya terkait dengan hasil survey tersebut :
 
1. Kenapa judul nya menjadi Survey Aspek Kepribadian Capres tp yg dipakai trait?
Dalam psikologi berbeda antara kepribadian dan trait

2. Ketua HIMPSI Jakarta Jo Rumeser mengatakan bahwa "landasan teori survey ini menggunakan Konsep Posner dan Kauzen yg dikenal sbg Leadership Challange" tetapi alat survey yg dipakai ternyata menggunakan konsep Big Five Personality nya Golbern
http://m.beritasatu.com/.../194420-menakar-aspek...

3. Selain menggunakan konsep the big five juga menambahkan konsep motif. Dua konsep yg menurut sy berbeda, seakan berkata the big five perlu disempurnakan. Tp sy yakin para psikolog punya pertimbangan tertentu

4. Ini yg plg kritikal tp tdk dijelaskan dan tdk ada di ppt, uji data dan hasil VALIDITAS - REABILITAS

5. Jika diperhatikan lbh jauh lg juga menarik contoh nya leadership style. Dr begitu banyak leadership style kenapa responden hanya diminta milih otorriter atau demokratis? Dengan dasar konsep yang sama kenapa juga tidak memasukan dua tipe leadership yang lain, Otoriter - Permissive - Demokratis - Otoritatif

6. Saat mempresentasikan hasil survey nya, sayangnya presenternya tdk menjelaskan dinamika psikologisnya tapi malah fokus ke data survey. Bagi orang non psikologis bisa jadi hasil ini diterjemahkan secara sepihak. Contoh nya kalau hanya dibaca persifat tdk ke dlm dinamika psikologi. Jokowi punya nilai 7 di trait Consiounes "pengambilan keputusan dg mempertimbangkan byk hal" kalu berdiri sendiri bagi sebagian org akan dilihat sebagi positif sebagai tajam menganalisa masalah atau bisa juga dinilai negatif sebagai lama menganalisa lama memutuskan
Mari diskusikan ini
 
Berkah selalu
N Kuswandi

Tuesday, July 1, 2014

Melihat Capres Secara Berimbang


Pemilu presiden, momen yang menggairahkan bagi hampir semua warga Indonesia. Perdebatan saling membela ataupun menjelek-jelekan Calon Presiden pilihan pun menjadi fenomena menarik tersendiri di diskusi sosial media sampai diskusi di warung kopi.  Saking fanatiknya pendukung Calon Presiden tak heran yang terjadi berikutnya adalah teman jadi musuh, saudara hilang, dan relasi renggang. Padahal 1000 teman itu sedikit dibanding 1 orang musuh. Hilang satu saudara tidak tergantikan. Dan renggangnya relasi membutuhkan effort 5 kali lipat untuk mengembalikan hubungan.
 
Agar semua teman, saudara dan relasi yang kita miliki tetap selalu di sisi kita, yuk coba kita mendiskusikan dari sisi yang berimbang. Melihat dari sudut pandang kekuatan para calon presiden kita. Dan ini adalah beberapa sudut pandang yang saya dan istri kumpulkan dari diskusi menjelang sahur dan setelah buka puasa.
 
#1 Task Oriented & People Oriented
Task Oriented "Capres Prabowo Subianto menegaskan demokrasi adalah alat untuk mencapai cita-cita yang diinginkan Indonesia"
People Oriented "Capres Joko Widodo, demokrasi adalah suara rakyat"
 
#2 Manager & Leader
Jika memilih manager (do the right think) pilih Jokowi
Kalau memilih leader (do the think right) pilih Prabowo


#3 Strategic & Executor
Kalau Anda yakin strategi Indonesia selama ini sdh bagus tapi eksekusi nya yg tdk Bagus pilih Jokowi. Dia eksekutor yg baik
Kalau Anda meyakini Indonesia butuh strategi yg baik, pilih Prabowo. Dia ahli strategi

 
#4 Kholeris & Plagmatis
Prabowo Subijanto adalah seorang kholeris. Dan sebagai seorang kholeris, Prabowo memiliki kelebihan dan kekurangannya
Jokowi adalah seorang Plagmatis. Dan sebagai seorang Plagmatis, Jokowi memiliki kekurangan dan kelebihannya

#5 Persepsi Kepribadian
Ketegasan seorang kholeris seringkali disalah arti sebagai otoriter
Take a lead nya seorang kholeris sering kali disalah arti sebagai ambisi kekuasaan

Kedamaian seorang Plagmatis seringkali disalah arti sebagai boneka
Kemampuan untuk mendengar pendapat seorang Plagmatis seringkali disalah arti sebagai tidak punya pendirian


#6 Coach & Mentor
Sebagai Plagmatis, Jokowi adalah Coach yang baik - Ing madyo mangun karso
Sebagai Kholeric, Prabowo adalah mentor yang baik - Ing ngarso sun tulodho

Setiap orang memiliki ekpektasi sendiri-sendiri dengan presiden yang akan datang. Dan setiap orang memiliki analisa nya masing-masing untuk melihat kondisi Indonesia. Dengan situasi yang ada saat ini, silahkan menentukan presiden yang menurut Anda sesuai dengan analisa Anda. Dan tetap bersinergi membangun Indonesia

Berkah selalu
N Kuswandi