Showing posts with label kompetensi coaching. Show all posts
Showing posts with label kompetensi coaching. Show all posts
Wednesday, June 26, 2019
Efek Domino Di Dalam Coaching
Di Leeuwarden, Belanda, pada hari Domino, 13 November 2009, Weijers Domino Production menyelenggarakan pemecahan rekor dunia menjatuhkan domino dengan membariskan 4.491.863 keping domino yang ditata secara menakjubkan. Seperti kita tahu, kejatuhan domino pertama kan memicu kejatuhan beruntun domino berikutnya. Namun tahukah Anda, setiap domino yang jatuh ternyata melepaskan energi lebih dari 94.000 joule yang setara dengan seorang laki-laki yang melakukan push up 545 kali.
Menariknya adalah efek domino ini menjadi punya energi yang lebih besar saat disusun dengan kepingan domino yang berukuran besar. Lorne Whitehead dalam journal pf physics menulis bahkan sebuah domino mampu menjatuhkan sebuah domino yang berukuran 50% lebih besar. Artinya apa? Jika kita menyusun domino awal dengan tinggi 5 cm, maka domino ke 18 akan setinggi Menara pizza, dan itu bisa dijatuhkan dari reaksi berantai domino yang diawali dari domino 5 cm.
Apa implikasinya terhadap coaching?
Mari sepakati bahwa coaching tidak hanya memberikan powerful question? Ada lima bagian utama dari coaching, yang sering kali saya singkat menjadi COACH. Dimana C adalah singkatan dari Create Trust and Intimacy, O kepanjangan dari Observe and Assess Coachee Needs. Aktifitas ketiga baru A atau Ask Powerful Question. Proses coaching tidak berhenti di huruf A namun ada proses berikutnya, yaitu huruf C atau Challenge the Process dan H atau Hold Accountability.
Challenge the process dan hold accountability pada hakekatnya adalah membantu coachee mengimplementasikan action log dari percakapan coaching. Dan menariknya adalah saat coachee doing small action untuk mengimplementasikan action log dari percakapan coaching maka “bang” reaksi berantai seperti efek domino akan terjadi.
Ada orang yang pada awalnya tidak pernah olah raga. Kemudian dia memulai menggerakkan domino awalnya dengan jalan kaki mengelilingi komplek bersama anak nya. Dan “bang”, efek domino terjadi. Small action yang dia lakukan menggerakan domino keakraban dengan anaknya, menggerakan domino lebih bugar, menggerakan domino lebih sehat, menggerakan domino disiplin dan domino-domino lain.
Dari keseluruhan kekurangan yang saya miliki, saya menata domino pertama saya dengan belajar mendengar lebih baik. Setelah domino pertama saya, “mendengar”, bergerak maka domino lain juga ikut berdampak. Hubungan saya dengan istri menjadi lebih baik, kehidupan keluarga lebih indah, senyuman yang dibawa dari rumah membuat kerja semakin produktif dan gerakan-gerakan domio lain.
Perlu dicatat bahwa ada syarat yang perlu dipenuhi oleh seorang coach untuk menggerakan “domino” awal tersebut. Syarat tersebut berhubungan dengan hokum pareto. Seperti kita sepakati bahwa ada bagian sebesar 20% yang memiliki kontribusi terhadap 80%. Sehingga coach butuh menemukan domino awal yang 20% tersebut.
Proses penemuan domino awal ini bisa dilakukan seorang coach saat berada di proses akhir percakapan coaching.
Pertanyaan yang biasa saya gunakan untuk membantu coachee menemukan domino awal adalah “Dari keseluruhan action yang akan Anda lakukan, mana satu action yang jika Anda lakukan akan membuat action lain menjadi lebih mudah atau bahkan tidak perlu dilakukan lagi?”
Peran Anda sebagai coach belumlah berakhir, setelah coachee Anda menemukan domino pertama, langkah berikutnya adalah mengajak coachee Anda menyusun domino-domino berikutnya. Dan pertanyaan berikutnya yang seringkai saya gunakan adalah “Dari action plan lain yang sudah Anda rencanakan, mana yang memiliki impact besar dengan effort yang kecil?”
Akhirnya domino coachee Anda sudah tersusun dengan rapi. Ingat bahwa domino terakhir tidak akan pernah bergerak jika domino awal tidak pernah digerakan. Dan inilah peran challenge the progress & hold accountability seorang coach. Gerakan domino pertama coachee dengan monitoring progress coachee dan berikan feedback atas pregress yang dilakukan coachee.
Berkah Selalu
N Kuswandi
People & Organization Performance Coach
Penulis Buku Coaching Handbook
Wednesday, August 24, 2016
International Coach Federation : Managing Progress & Accountability
Dari indicator perilaku managing
progress and accountability, seorang coach memiliki panduan
perilaku-perilaku apa saja yang perlu dilakukan dalam managing progress and
accountability. Kesemua indicator perilaku tersebut bisa dilakukan dengan
dua tool berikut.
Pertama adalah Scoreboard
Saat coachee enggage dengan
designing action yang dibuat maka dia akan mengeksekusi designing
action yang dia buat. Dan kunci agar coachee enggange adalah dengan scoreboard
yang selalu dia lihat, selalu di update dan memotivasi coachee. Ingat bahwa
“orang bermain secara berbeda saat mereka melihat score”. Sudah menjadi sifat
manusia saat seseorang menghitung score mereka, dia akan memberikan hasil
terbaiknya.
Scoreboard adalah representasi dari designing action yang coachee
buat. Bisa jadi desiging action yang dimiliki coachee dibuat di
dalam buku dan berbentuk begitu formal dengan kolom-kolom yang membosankan,
maka scoreboard adalah simpulan dari designing action yang sudah
dibuat.
Scoreboard yang baik setidaknya memiliki tiga ciri, yang pertama adalah
scoreboard tersebut haruslah mudah dilihat oleh coachee, baik berupa
ukurannya, kesederhanaanya dan letaknya. Dengan kemudahan melihat scorecard,
secara tidak langsung akan tumbuh motivasi instriksik dari coachee dan
akan membuat coachee bermain secara berbeda saat ada score yang dilawan.
Syarat kedua agar scoreboard
mampu menimbulkan enggagement adalah selalu diupdate. Pertemuan rutin
yang disepakati coachee dan coach untuk melaporkan pencapaian
akan menjadi sarana yang sangat baik untuk mengupdate scoreboard yang
dimiliki. Bisa jadi pertemuan tersebut adalah seminggu sekali, atau bisa jadi
sebulan sekali, tergantung kesepakatan antara coach dan coachee.
Hal yang penting dari pertemuan rutin adalah menciptakan irama akuntabilitas.
Dan syarat ketiga dari scoreboard
yang baik adalah memotivasi coachee. Scoreboard yang dibuat
sendiri oleh coachee lebih menimbulkan motivasi dibandingkan saat
dibuatkan coach nya. Semakin kuat coachee merasa bahwa scoreboard
tersebut milikinya, semakin besar keinginannya untuk mengambil alih kepemilikan
atas scoreboard tersebut.
Scoreboard yang memotivasi juga
bisa ditandai dengan kemampuan untuk langsung memberitahu coachee, apakah
coachee sedang kalah atau sedang menang? Saat scoreboard tidak mampu
menunjukan posisi kekalahan atau kemenangan coachee maka itu bukanlah scoreboard,
namun hanya data belaka. Dan ingat motivasi tidak akan tumbuh saat coachee
tidak mengetahui apakah dirinya sedang kalah atau sedang menang, orang selalu
bermain secara berbeda saat melihat angka.
Seorang coachee memiliki
goal untuk bisa diterima di salah satu perusahaan multinasional dari Amerika.
Saat ini dia sedang semester enam dan sedang menyelesaikan kuliah. Setelah
proses coaching, dia membuat designing action sebagai berikut :
Dengan designing action
yang dibuat oleh coachee di atas, maka contoh scoreboard yang
mengaplikasikan ketiga syarat di atas adalah sebagai berikut :
Perhatikan gambar diatas, scoreboard
tersebut memenuhi ketiga ciri scoreboard yang baik. Syarat pertama mudah
dilihat, dipenuhi dari kesederhanaannya yang hanya berbentuk speedometer,
bentuk yang familiar ditemui baik di sepeda motor maupun di dalam mobil. Coachee
juga dapat memprint di kertas yang besar dan menempel dashboard tersebut
di tempat yang mudah dilihat oleh coachee sendiri. Sehingga coachee
dapat memonitor sendiri perkembangannya.
Selain memenuhi syarat pertama, scoreboard
tersebut juga memenuhi syarat kedua, yaitu selalu di update. Coachee dan
coach bisa saja menyepakati bahwa setiap bulan, mereka akan bertemu dan
berdiskusi eksekusi dari desigining action. Saat pertemuan tersebut, coachee
bisa membawa scoreboard nya dan mengupdate pencapaian ekskusi designing
action nya.
Scoreboard diatas juga memenuhi
syarat scoreboard ketiga beripa memotivasi dengan langsung langsung mengetahui
kekalahan atau kemenangan. Semua orang aware, merah adalah tanda stop,
larangan dan bahasa lainnya adalah kekalahan, sedangan kuning adalah titik
berhati-hati, dan hijau adalah kemenangan. Setelah update dilakukan secara berkala,
maka coachee dapat langsung mengetahui dimana posisinya saat ini, apakah
kalah atau menang? Saat coachee melihat setiap hari posisi nya saat ini,
di saat itulah coachee akan memainkan permainan yang berbeda.
Thursday, August 4, 2016
Apa itu Coaching?
Banyak ahli
mendefinisikan tentang coaching. Dan
salah satu dari banyak definisi tentang coaching, salah satu definisi tentang
coaching diberikan oleh John Whitmore yang merupakan seorang Business Coach
nomer satu yang diakui oleh Independent Newspaper dan penerima penghargaan President’s
Award dari International Coach Federation. Menurut John Whitmore, coaching adalah membuka potensi
seseorang untuk memaksimalkan pertumbuhan coachee (orang yang diberi coaching).
Definisi dari John Whitmore
ini kemudian diadaptasi menjadi definisi coaching yang dikeluarkan oleh International Coach Federation (ICF) yang
merupakan salah satu organisasi professional coaching yang memiliki
kredibilitas tinggi dan jaringan di seluruh dunia. Didirikan oleh seorang professional coach bernama Thomas
J. Leonard
pada tahun 1995 dengan semangat membangun komunitas professional coaching di Amerika Utara. Saat ini, ICF memiliki 126
chapter diseluruh dunia dengan 25.000 member dan terus bertambah setidaknya 500
orang per tahun, menjadikan ICF sebagai organisasi professional coaching
terbesar dan terkredible di seluruh dunia. Adapsi definini coaching dari John Whitmore yang dikeluarkan ICF
sendiri menjadi coaching adalah proses
kemitraan dengan coachee untuk memprovokasi proses berfikir coachee secara kreatif
dan menginspirasi untuk memaksimalkan potensi dan performance coachee.
Dari definisi
tersebut, ada tiga kata kunci yang yang bisa digarisbawahi. Pertama adalah kemitraan,
kedua adalah memprovokasi cara berfikir dan ketiga adalah memaksimalkan potensi
dan performance. Kata kunci pertama “kemitraan” yang menjadikan coaching
menjadi pembeda dengan tool-tool pengembangan yang lain. Seperti sudah kita
ketahui, beberapa tool pengembangan yang familiar didengar diantaranya adalah
training, conseling, mentoring dan consulting. Keempat tool pengembangan diri
ini dikembangkan dengan bintang utamanya adalah pihak pertama (trainernya,
konselornya, mentornya ataupun konsultannya), berbeda dengan coaching, karena
proses kemitraan maka bintang utamanya adalah pihak kedua (coachee nya).
Perhatikan saja, jika
Anda mengikuti pelatihan, siapa yang menjadi bintangnya? Atau saat Anda
mengikuti konseling, mana yang berperan paling dominan? Ataupun saat Anda
mendapatkan service consulting dan mentoring, siapa yang lebih pintar?
Sebaliknya, saat Anda mendapatkan coaching, maka fokus nya bukan di coach nya
namun di coachee nya, coachee nya lah yang pintar menemukan jalannya sendiri,
coachee nya sendiri yang menemukan solusi dan memutuskan solusi mana yang akan
diambil dan diimplementasikan.
Perbedaan lainnya terletak
pada kata kunci definisi coaching yang kedua, memprovokasi pikiran. Training, mentoring, conseling dan
consulting adalah tool pengembangan diri yang sifatnya searah. Saat Anda
mendapatkan training, Anda diminta
untuk mengimplementasikan apa yang sudah dibawa oleh trainer. Begitu juga saat Anda melakukan mentoring, consulting
ataupun consulting, prosesnya searah dan cenderung direct atau telling dari pihak pertama kepada client nya. Sebaliknya, saat Anda
melakukan proses coaching, coach akan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang
kreaktif untuk menggali (seeking) dan memaksimalkan potensi
yang Anda miliki.
Berkah Selalu
N Kuswandi
Friday, July 29, 2016
Coaching Designing Action Excecution
Tahukah Anda, hanya ada 10% organisasi di Amerika Serikat yang memiliki rencana strategis dan berhasil mengimplementasikan rencana tersebut dalam operasional bisnis mereka (Kaplan & Norton, 2004). Ram Charan bahkan dalam penelitiannya menemukan bahwa 70% kegagalan strategi yang dimiliki perusahaan bukan karena kurangnya orang-orang pintar atau kurang baiknya strategi, namun karena eksekusi.
Setidaknya terdapat
empat hambatan pokok dalam eksekusi strategi, yaitu hambatan visi dan misi,
hambatan orang, hambatan manajemen, dan hambatan sumberdaya. W. Chan, penulis
buku Ocean Strategy menganalogikan hambatan tadi kedalam empat rintangan, yakni
rintangan kognitif (terjebak status quo), rintangan sumber daya, rintangan
motivasional dan rintangan politik.
Penelitian yang
dilakukan oleh Kaplan dan Norton serta Ram Charan bisa menjadi gambaran lain
seberapa besar eksekusi hasil coaching yang dilakukan coachee?
Sampai saat ini, saya
belum menemukan riset yang menjelaskan berapa banyak hasil coaching dieksekusi oleh coachee
nya. Namun, dari pengalaman saya sebagai seorang coach, coachee mampu
menganalisa masalahnya, membuat keputusan dan action plan sebagai hasil coaching
adalah “one think”, mengeksekusi apa
yang dihasilkan selama sesi coaching adalah “the other think”.
Eksekusi hasil coaching
di kehidupan nyata coachee akan menguji
seberapa gigih dan kuatnya mental coachee.
Saat mengeksekusi apa yang coachee sudah putuskan bisa jadi coachee akan berhubungan dengan
orang-orang yang tidak support dengan
action plan yang dia buat, coachee terjebak dalam status quo,
mendapat rintangan secara politik, atau masalah motivational coachee untuk
mengeksekusi hasil coaching yang
sudah coachee rumuskan sendiri.
Disinilah terlihat jelas kenapa International Coach
Federation mensyaratkan seorang professional
coach harus memiliki competency
managing progress and accountability. Seorang coach diharapkan mampu mempertahankan perhatian pada hal yang penting
bagi coachee, dan memberikan tanggung jawab kepada coachee untuk mengambil
tindakan.
Bagaimana cara melakukan hal
tersebut? Tidak lain dan tidak bukan, caranya adalah dengan memberikan feedback.
Ada dua macam feedback yang bisa diberikan seorang coach. Feedback
pertama berhubungan dengan acknowledgment atau pengakuan atas hal
positif yang dilakukan coachee. Feedback jenis ini disebut sebagai positif
feedback. Feedback kedua berhubungan dengan improvement untuk mengingatkan coachee
saat mulai keluar jalur track yang sudah dibuat. Feedback jenis
ini disebut improvement feedback.
Apapun feedback yang diberikan,
seorang coach perlu mengingat tiga unsur penting dari feedback. Unsur pertama
adalah timely, atau tepat
waktu. Feedback haruslah diberikan secepat mungkin. Jika coachee komit
mengeksekusi action plan hasil coaching ataupun tidak komitmen
mengeksekusi, maka feedback secepat mungkin harus diberikan. Jangan
sampai tindakan yang dilakukan hari ini, feedback yang diberikan satu
atau dua bulan berikutnya. Bisa dibayangkan bisa jadi coachee sudah lupa
dengan peristiwa tersebut. Apalagi feedback yang sifatnya improvement feedback,
bisa-bisa karena durasi feedback nya terlalu lama, coachee berkali-kali
melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan action plan hasil coaching. Atau
karena durasinya sudah terlalu lama improvement feedback pun malah menjadi adu
argumentasi, “enggak saya tidak melakukan itu” begitu kata coachee nya
karena sudah lupa.
Unsur
kedua yang harus dimiliki saat
memberikan feedback adalah unsur specific,
artinya feedback yang diberikan harus menggambarkan secara perilaku
spesifik yang diberikan feedback. Tujuannya adalah agar coachee memiliki
kejelasan perilaku mana yang diapresiasi (acknowledgement) dan perilaku
mana yang perlu ditingkatkan. Saat perilaku yang diberi feedback jelas,
maka coachee memiliki kejelasan mana perilaku yang perlu dipertahankan,
ditingkatkan ataupun diperbaiki.
Dan unsur ketiga dari feedback
adalah balance. Maksudnya
adalah feedback yang diberikan haruslah mengandung unsur keseimbangan antara positif
feedback dan improvement feedback. Tentunya Anda bisa membayangkan,
jika seorang coachee hanya mendapatkan positif feedback atas apa yang
dia lakukan. Terlalu banyak memberikan positif feedback menyebabkan standard
yang dimiliki coachee menjadi rendah. Sebaliknya, saat improvement feedback
mendominasi feedback-feedback yang diberikan maka yang terjadi adalah coachee
menjadi frustasi. “Apapun yang saya lakukan kok selalu salah dimata coach saya”,
begitu pikiran coachee kita. Jadi pastikan Anda selalu memberikan feedback
secara seimbang. Jelilah dalam mengobservasi coachee untuk menemukan
perilaku-perilaku mana yang bisa Anda beri positif feedback dan improvement
feedback.
Berkah SelaluN Kuswandi
People & Organization Performance Coach
Wednesday, June 29, 2016
International Coach Federation -3th Competency : C Membuatmu Dipercaya Di Awal – I Membuatmu di RO
Di catatan sebelumnya, saya berbagi tentang rumus mendapatkan trust. Dimana, trust ini menjadi salah satu core competency yang harus dimiliki oleh seorang coach. Mari ingat kembali rumus trust berupa T= C x R x I. Dimana C adalah capable atau competency, R nya adalah reliable atau konsistensi, dan I nya adalah intimacy.
Trust akan memungkinkan coachee mengeluarkan semua unek-unek,
dan berada dalam kondisi gelombang otak alfa, sehingga ide-ide segar dapat
dimunculkan.
Trust juga akan memungkinkan kita sebagai
seorang professional coach, mendapatkan
coachee. Kondisi pertama yang akan
Anda alami adalah Anda mendapatkan coachee
baru yang ingin mencoba mendapatkan coaching
dari Anda. Kondisi kedua berupa Anda mendapatkan coachee yang sebelumnya sudah mendapatkan coaching dari Anda, sehingga ini adalah repet order coaching untuk Anda.
Pada kondisi
pertama, terlihat bahwa coachee yang
sedang menginginkan service Anda
sebagai seorang coach memperlihatkan bahwa
coachee mempercayai Anda. Jika
coachee tadi sebelumnya tidak memiliki faktor kedekatan dengan Anda (faktor intimacy), maka bisa dipastikan coachee tersebut memilih Anda karena
melihat profesionalime Anda. Bisa
jadi coachee melihat sertifikasi yang
Anda miliki, membership di asosiasi professional
coaching. Jika kita kembalikan ke rumus trust,
artinya coachee mempercayai Anda
karena faktor competency yang Anda
miliki.
Bagaimana dengan
coachee yang Anda dapatkan dari repet
order? Ternyata faktor competency
menjadi nomer dua setelah faktor intimacy.
Analogi gampangnya adalah sebagai berikut, Anda mendatangi seorang dokter yang
belum Anda kenal. Alasannya boleh dipastikan karena Anda percaya dengan
keahlian yang dimiliki dokter tersebut. Setelah Anda diperiksa dokter tersebut,
Anda melihat memang dokter tersebut expert dibidang penyakit Anda. Namun, saat
melakukan pemeriksaan, dokter tersebut sama sekali tidak ada chemistry dengan Anda. Sehingga selama
diperiksa Anda merasa tidak nyaman. Walaupun Anda percaya dengan keahlian
dokter yang memerika Anda.
Jika Anda berada
dalam kondisi di atas, apakah trust Anda terhadap dokter tersebut akan naik
dibandingkan dengan kunjungan pertama? Atau jika Anda memiliki option dokter
lain dengan keahlian yang sama, apakah Anda akan kembali pada dokter yang
pertama? Kebanyakan dari kita akan menjawab pertanyaan pertama dengan tentu
saja trust nya akan berkurang dan tentu saja kalau ada dokter lain, saya
memilih dokter lain.
Begitu juga
dengan peran kita sebagai seorang coach, memang competency akan membuat kita
kebanjiran coachee yang mencoba service kita, namun intimacy lah yang akan
membuat coachee melakukan repet order service kita. Tak heran ada sebuah kata
bijak yang berkata “competency akan
membawa Anda memasuki pintu perusahaan, dan intimacy
yang akan membawa Anda menuju posisi berikutnya”
Tetap bertumbuh competency dan jangan lupakan intimacy
N
Kuswandi
People
& Organization Performance CoachMonday, June 20, 2016
International Coach Federation : Coaching Meningkatkan Productivity
Coaching, sebuah pendekatan people development yang mulai dikenal di
Indonesia. Im_Possible, Acara yang
dipandu Merry Riana di Metro TV menjadi salah satu jalan dikenalnya coaching di
Indonesia. Perhatikan saja, tag name presenter yang membawakan acara tersebut. Team creative Merry Riana tidak
menggunakan tag name trainer, motivator, consulting,
dan sebagainya, namun team creative
Merry Riana menggunakan tag name “coach”, bagi setiap pengisi
acara di Im_Possible.
Penonton acara tersebut yang
belum pernah mendengar istilah coach
pun bertanya-tanya, apa itu coach?
Dan orang-orang mulai mencari tahu tentang coach
dan coaching. Ujung-ujung nya,
pengembangan diri yang mereka lakukan pun mulai beralih dari training ke coaching.
Salah satu alasan perpindahan
mereka bisa jadi karena sebuah riset yang menunjukan seberapa besar impact coaching dibandingkan dengan
metode pengembangan diri lain. Penelitian yang dilakukan oleh Olivero. D, Bane
K.D dan Kopelmen, R.E pada tahun 1997 menunjukan hal tersebut. Mereka
membandingkan antara training dan coaching. Hasil penelitian mereka
menunjukan bahwa development yang
dilakukan dengan hanya menggunakan training
saja akan berdampak 22,4% terhadap productivity.
Sedangkan development yang dibarengi
dengan coaching akan meningkatkan productivity sebesar 88%.
Pertanyaannya adalah kenapa training yang dibarengi dengan coaching mampu meningkatkan productivity lebih besar dibanding training saja?
Jawaban nya berhubungan dengan waktu
dan memory. People development baik itu training
ataupun coaching tentunya bertujuan
untuk meningkatkan competency yang
ujung-ujungnya adalah meningkatkan productivity.
Seseorang dikatakan memiliki competency
jika memiliki keahliah (skill),
pengetahuan (knowledge) dan dalam
keseharian menunjukan keahlian dan pengetahuan tersebut -behavior. Keahlian seseorang dalam melakukan sesuatu dipengaruhi
oleh muscle memory (otot-otot nya me-memory keahlian yang dimiliki).
Sedangkan pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh brain memory (otak me-memory
pengetahuan yang dimiliki).
Dengan melakukan training maka seseorang dilatih untuk
memiliki keahlian dan pengetahuan tertentu. Sayangnya training hanya dilakukan dengan durasi yang tidak lama, berkisar
antara satu sampai lima hari. Sehingga muscle
memory dan brain memory tidak
memiliki waktu yang lama untuk dilatih. Akibatnya tentu saja competency yang diharapkan tidak bisa full terpenuhi. Bandingkan dengan training yang kemudian dibarengi coaching pasca training. Secara durasi tentu saja lebih panjang, sehingga
kemungkinan untuk menginsert keahlian dan pengetahuan baru lebih memungkinkan
orang menjadi lebih kompeten. Atau dalam bahasa lain, proses coaching mewajibkan seorang coach & coachee melakukan managing
process & accountability dari action
log coaching yang dibuat coachee.
Dengan accountability action log tersebut, semakin memungkinkan
orang mendapatkan competency yang
dibutuhkan. Sehingga tak heran jika training
yang dibarengi dengan coaching akan
memberikan impact yang lebih besar.
Pada tahun 1989, seorang psychologist bernama Hermann Ebbinghaus melakukan
penelitian tentang berapa lama orang bisa me-memory pengetahuan dan keahlian baru. Hasil penelitian Ebbinghaus
tersebut dikenal sebagai Ebbinghaus Forgetting
Curve. Ebbinghaus menunjukan di dalam curva tersebut bahwa 60% pengetahuan
dan keahlian yang dipelajari akan hilang setelah satu jam. Menariknya lagi,
setelah 31 hari setelah orang mempelajari pengetahuan dan keahlian baru, memory yang masih disimpan hanya
sebanyak 21%.
Jika forgetting curve tadi diterapkan dalam proses training, maka seperti kita ketahui
pada umumnya setelah orang mengembangkan
diri dengan training tidak ada follow up. Sehingga keahlian dan
pengetahuan yang dipelajari di dalam kelas training
pelan-pelan akan hilang. Hingga pada hari ketiga puluh satu, memory yang disimpan tinggal 21% saja.
Bagaimana dengan coaching? Seperti sudah dibahas diatas
bahwa coaching akan memperpanjang
waktu menginsert pengetahuan dan ketrampilan baru, dengan managing progress dan accountability
action log yang dibuat coachee.
Dengan melakukan ini maka coach akan
membantu coachee semakin memory pengetahuan dan keahlian yang
dipelajari. Coach akan mengingatkan coachee
memory pengetahuan dan keahlian yang
dipelajari. Dan seperti kita tahu dengan melakukan repetisi pengetahuan dan
keahlian yang dimiliki akan semakin membuat memory
tertanam dan tahan lama.
Sumber
Olivero. D, Bane K.D dan Kopelmen, R.E (1997),
Combining Coaching & Training Improves Productivity, Public Personal Management,
Vol 26, Issue 4, Winter, p. 461
Berkah
selalu
N
Kuswandi
Subscribe to:
Posts (Atom)




