Showing posts with label Novianta Kuswandi. Show all posts
Showing posts with label Novianta Kuswandi. Show all posts

Thursday, February 13, 2014

Daniel PinK : The Puzzle of Motivation





Setiap menggali Training Need Analysis, bisa dipastikan isu yang muncul adalah, "bantu anggota team kami untuk memiliki mind set yang lebih baik". Karena inilah, saya khirnya membranding diri sebagai modifying behavior. Harapannya, apa yang dibrandingkan benar-benar menjadi kenyataan.

Menuju goal branding tersebut, sudah selayaknya selalu belajar menemukan metode terbaru dan terefektif untuk memodifikasi perilaku. Salah satu konsep terbaru dikenalkan oleh Daniel Pink saat Daniel berpidato di acara TED 2009. Konsep ini muncul karena, Daniel Pink menganggap konsep motivasi Behavior yang berprinsip pada insentif materi, reward dan punishment tidaklah cukup. Daniel Pink melihat model reward-punishment, atau stick and carrot hanya cocok diterapkan bagi pekerjaan mekanis yang flow proses bisnis nya monoton. Dan jenis bisnis atau organisasi seperti ini hanya berlangsung di era industri saja. Sedangkan pada masa ini, era bisnis sudah bergeser dari era industri ke era kontektual yang ditandai dengan lahir dan besarnya industri-industri kreaktif.

Melihat perubahan era tersebut, Daniel Pink kemudian melakukan penelitian yang berfokus pada motivasi intrinsik yang pernah dikembangkan oleh Edward Deci di tahun 1969 dan Harry F. Harlow tahun 1949. Dari penelitian yang dilakukan, Daniel Pink membuktikan, motivasi eksternal seperti uang hanya menjadi motivasi jangka pendek selama insentifnya dibayarkan. Daniel Pink juga mengatakan bahwa orang hanya akan melakukan sesuatu sejauh mereka dibayar. Atau kalau dalam istilah hierarki value, insentif external seperti uang hanya memotivasi orang sejauh aktifitas basic saja.

Daniel Pink kemudian memberikan rekomendasi, untuk perusahaan yang hidup di era busnis kontektual dengan core company creativity bisa menggunakan tiga faktor instrinsik untuk memotivasi karyawannya. Ketiga motivasi instriksik itu oleh Daniel Pink dinamakan sebagai motivasi Mastery atau penguasaan keahlian; motivasi Autonomy atau kemandirian; dan motivasi Purpose atau tujuan yang bermakna. Menariknya, Daniel Pink juga menyampaikan, bahwa motivasi internal tadi harus dilengkapi dengan memberikan gaji dan tunjangan yang layak kepada karyawan.

Daniel Pink menjelaskan, motivasi Mastery adalah motivasi untuk menguasai keahlian, yang artinya seseorang bisa memiliki motivasi yang tinggi jika mereka diberikan peluang untuk mengembangkan dirinya untuk menjadi expert atau spesialis dibidang tertentu. Dalam aplikasinya, perusahaan atau organisasi yang menggunakan konsep mastery harus memberikan pekerjaan yang cukup menantang tapi tidak terlalu mustahil.

Autonomy menurut Daniel Pink didefinisikan sebagai kebebasan yang diberikan perusahaan kepada para karyawannya dalam bentuk kebijakan yang flekibel. Karyawan dibebaskan untuk berinovasi serta menjadi kreatif. Daniel Pink percaya, karyawan yang memiliki perasaan tertekan karena segala peraturan yang mengekang akan mendemotivasi seseorang.

Motivasi ketiga berupa purpose adalah bahwa setiap orang memiliki tujuan non financial atas pekerjaan nya. Tujuan itu bisa berupa, membantu orang lain, tujuan spiritual, tujuan aktualisasi diri dan sebagainya. Para leader sering kali mengistilahkan dengan added value dari setiap pekerjaan. Bukan hanya bekerja agar target nya tercapai, tapi apa nilai lain yang bisa didapat saat melakukan pekerjaan dan mencapai target. Purpose memberikan arti penting dalam suatu aktivitas menjadi layak diperjuangkan. Purpose adalah bahan bakar utama dalam mengobarkan api motivasi.

Salah satu perusahaan yang entah sadar atau tidak yang sudah menggunakan ketiga model intrinsik tersebut adalah Google. Aplikasi konsep Daniel Pink, dimulai Google merekrut karyawan. Google hanya merekrut, bahkan membajak orang-orang yang terbukti memiliki keahlihan di bidang IT. Secara tidak langsung, sebenarnya Google mengaplikasikan konsep motivasi mastery. Orang-orang yang terbukti hebat memiliki keahlian di bidang IT adalah bukti bahwa orang-orang tersebut memiliki motivasi intrinsic untuk menjadi spesialis (mastery) di bidang IT. Setelah mereka diterima di Google, perusahaan membaskan mereka untuk bekerja dari mana saja dan mengerjakan apa saja. Role Google ini adalah aplikasi dari motivasi autonomy. Dan Google juga memiliki role bahwa setiap karyawannya memiliki project yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya. Role ini adalah aplikasi Google untuk menumbuhkan motivasi bekerja melalui intrinsic motivation purpose.

Berkah Selalu
Novianta Kuswandi

Sunday, February 9, 2014

Kitab Babon Rahasia Sukses


Semakin dipelajari semakin beragam rahasia sukses yang bermunculan. Mulai dari rahasia sukses nya Ki Hajar Dewantoro dengan 3 N nya (Niteni-Niroake-Nambahi) yang kemudian dikembangkan lagi oleh Pelatih Sukses No 1 Indonesia, Tung Desem Waringin menjadi Nyontek (niroake), Faktor Tambah (Nambahi), dan Faktor Kali. Tokoh-tokoh lain memiliki rumus yang berbeda lagi, Simon Sinek dengan teori Golden Circle nya mengajarkan kesuksesan didapat saat seseorang mengerjakan sesuatu berawal dari lingkaran paling dalam (lingkaran why) atau lingkaran passion, kemudian dilanjutkan dengan lingkaran tengah (lingkaran how) atau lingkaran competency, dan ditutup dengan lingkaran paling luar (lingkaran what) atau lingkaran action plan. Ada juga Daniel Goleman yang merumuskan kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh kecerdasan emosional (self awareness, managing emotions, motivating oneself, empathy dan handling relationship) ditambah kecerdasan intelektual. Steven Covey dengan buku larisnya berjudul Seven Habit for Highly Effective People kemudian menerjemahkan kecerdasan emosional ke dalam tujuh perilaku, handling relationship diterjemahkan menjadi dua perilaku "win-win" dan "synergy", empathy, proactive, begin from the end, put first think first, dan sharpen the saw. Mario Teguh berkomentar pendidikan itu penting untuk menjadi sukses, sedangkan tokoh "glidis" lain berbicara berhentilah sekolah cari ilmu dilapangan dan take action.

Semakin banyak rumus sukses yang bermunculan pastilah membuat orang semakin sulit untuk melihat hubungan dan menentukan rumus sukses mana yang harus dipakai. Dalam proses memperluas zona nyaman pencarian rumus sukses, ada "thek" (hikmah) yang mungkin menjadi pertanyaan saya, apa kitab babon dari rumus sukses. "Thek" itu saya temukan dari surat Al Ashr;
"Demi masa,
Sesungguhnya semua orang dalam kerugian
Kecuali orang-orang yang beriman, beramal sholeh
dan berwasihat (menaseht-nasehati) dengan kebenaran & menasehati dengan kesabaran"

Al Ashr yang menurut para ahli tafsir sebagai surat yang bisa merangkum Al Qur'an. Surat yang keluar di Mekkah tadi menurut saya adalah babon rumus sukses. Semua rumus sukses dari para ahli gagal mengalahkan ayat pertama "Demi Masa". Mau berjuta-juta rumus sukses sebenarnya kuncinya adalah waktu. Kita menganggap waktu itu konstan, sehari 24 jam, seminggu 7 hari, sebulan 30 hari. Anggapan kita terpatahkan oleh teori relativitas einsten, dengan rumus E=MC2. Waktu itu relative, yang tetap adalah kecepatan cahaya, 300.000 m/s, dan kita bisa mempersepsikan waktu karena ada cahaya. Siapa yang bisa bergerak mendekati cahaya maka semakin panjang waktu yang dimiliki.  Artinya rumus sukses pertama adalah mengalahkan kecepatan cahaya. Semua orang mampu mengerjakan apapun, yang membedakan adalah seberapa seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tadi. Ada yang berhasil menyelesaikan pekerjaan dalam waktu 1 hari dan ada yang berhasil menyelesaikan dalam waktu 1 minggu. Semakin cepat orang berlari mendekati cahaya maka semakin cepat seseorang menyelesaikan pekerjaan. 

 Orang-orang yang bisa mengalahkan atau mendekati cahaya disebut sebagai orang-orang yang beruntung. Cara untuk mengalahkan kecepatan cahaya tersebut juga sudah diterangkan, yaitu :
1. Beriman                 dengan kata lain berilmu
2. Beramal sholeh      dengan kata lain take action
3. Berwasiat               dengan kata lain mensukseskan orang lain
Coba perhatikan jika Tung Desem Waringin merumuskan sukses dengan menyontek, nambahi, dan mengalikan maka sebenarnya ketiga hal tersebut adalah rumus pertama untuk mengalahkan waktu, "berilmu". Conteklah ilmu nya, tambahi ilmunya, dan kembangkan berkali-kali ilmunya. Mario Teguh juga berbicara ilmu sebagai pondasi sukses. Rumus kedua dibicarakan oleh Bob Sadino dengan take action nya. Rumus sukses Daniel Goleman dan Steven Covey juga sebenarnya jika dirangkum kembali ketiga rumus babon tadi. Seven Habit for Highly Effective People berbicara tentang habit effective sebagai pribadi dan habit effective dalam berhubungan dengan orang lain. habit effective sebagai pribadi adalah penjabaran dari beramal sholeh, dan habit effective dalam berhubungan dengan orang lain adalah penjabaran dari mensukseskan orang lain. Apapun rumus suksesnya kembali ke tiga rumus 

Kembali kepada rumus utama untuk menjadi sukses harus bisa mendekati cahaya. Cara untuk mendekati cahaya adalah dengan berilmu. Orang yang bisa mendekati cahaya identik dengan mampu mengerjakan pekerjaan dalam waktu singkat. Hal ini tentu saja hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki competency atau orang-orang yang memiliki ilmu. Buktinya saja Michael Suchmaker mampu mengelilingi 60 lap arena balapan hanya dalam waktu 45 menit, ini membuktikan Michael Suchmaker memiliki ilmu. Tentunya jika kita yang tidak memiliki ilmu mengendari F1 bisa jadi tidak bisa mendekati cahaya dan menyelesaikan 60 lap dalam waktu 2 hari.

Memiliki ilmu nya saja ternyata tidak menjamin seseorang mendekati cahaya. Dibutuhkan rumus kedua untuk menyempurnakan, take action begitulah rumus kedua. Memiliki ilmu tapi kalau tidak pernah dicoba tidak akan pernah menjadi amal, tidak pernah menjadi tindakan. Take action memungkinkan kita mendekatkan diri kepada kecepatan cahaya. 

Dan ternyata berilmu dan mengambil tindakan juga belum menjamin seseorang mendekati kecepatan cahaya. Diperlukan satu unsur lagi untuk mendekati cahaya, yaitu mensukseskan orang lain. Ilmu yang dimiliki orang terbatas, sehingga berdampak pada action yang akan dilakukan. Dengan bersama-sama mensukseskan orang, ilmu yang dimiliki orang lain menjadi ilmu kita dan ilmu kita menjadi ilmu orang lain. Sinergi saling membuat sukses ini membentuk simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. 

Saat ilmu, take action dan mensukseskan orang lain bisa bersinergi dengan bagus, kecepatan cahaya yang begitu cepat itu bisa kita dekati atau bahkan bisa kita susul. Bukan kah manusia dengan sifat insyaniallah nya lah yang bisa mengalahkan malaikat. Jika malaikat yang terbukti memiliki kemampuan kecepatan cahaya saja bisa kita kalahkan tentu saja kita bisa melebihi kecepatan cahaya?

Berkah selalu
N. Kuswandi

Sunday, February 2, 2014

Golden Circle : One Day Career Journey


Minggu kemarin berkesempatan sharing dengan teman-teman mahasiswa Psikologi di UNDIP tentang menyiapkan karir. Sharing kali ini dimulai dengan sebuah pertanyaan, "apa yang harus disiapkan untuk mendapat karir yang bagus?" Seandainya ditarik benang merah, pertanyaan yang mendasari sharing kali pas banget dengan buku saya yang berjudul "Good Talent Management Practice".

Saya mengawali sharing dengan teori Golden Cycle dari Simon Sinek. Seseorang bergerak karena memiliki alasan "why", dan alasan terkuat yang menggerakan seseorang adalah passion. Dengan passion orang akan bergerak menuju lingkaran kedua, "how". Passion menggerakkan orang untuk belajar "how" atau cara memperoleh passion nya, artinya orang akan mempelajari skill yang dibutuhkan. Tidak cukup dengan memiliki passion dan skill, untuk mencapai yang diimpikan, orang membutuhkan action plan, sebagai lingkaran terakhir "what", agar tujuan nya terarah dengan baik.

Passion + Skill + Action Plan itu lah yang perlu disiapkan mahasiswa untuk mengejar karir nya. Tiga hal tadi jika ditarik garis merah dengan buku saya "Good Talent Management Practice" memiliki benang merah yang sangat jelas. Di buku "Good Talent Management Practice" saya mengulas "Talent" atau karyawan yang memiliki performance dan potensi yang baik untuk memimpin perusahaan di dalam organisasi hanya berjumlah 2,5% dari total populasi karyawan. Para talent ini memiliki tiga ciri utama, memiliki passion, character dan competency.

Dengan kondisi yang sama, semua mahasiswa memiliki peluang untuk bekerja di perusahaan best fortune. Namun ternyata hanya 2,5% dari lulusan universitas yang mendapatkan kesempatan bekerja di perusahaan best fortune. Jika Simon Sinek menyaratkan passion + skill + action plan maka sebenarnya syarat itu menjadi pondasi untuk menjadi talent di sebuah perusahaan. Tentunya karir seseorang tidak berhenti hanya dengan berhasil bergabung di perusahaan best fortune. Karir sebenarnya baru dimulai setelah seseorang masuk di sebuah perusahaan.

Setelah Passion menjadi syarat yang sama untuk masuk ke perusahaan, maka passion juga menjadi syarat untuk menjadi talent dan mendapat promosi jabatan yang lebih bagus. Lingkaran kedua golden cycle berupa skill juga merupakan pondasi untuk menjadi seorang talent. Skill bisa berarti soft skill dan hard skill, jika ditarik benang merah dengan ciri seorang talent, maka soft skill adalah character dan hard skill adalah competency.


Pondasi saja tidak akan cukup menjadi sebuah bangunan. Mahasiswa yang berhasil masuk ke dalam perusahaan best fortune tentu saja memiliki pondasi yang variasi nya tidak begitu berbeda, bahkan hampir sama. Maka pondasi perlu dibangun untuk mempercepat karir. Dengan pondasi, passion + skill + action plan yang sama maka untuk mempercepat bangunan karir, orang perlu mengepos tiga asset nya, asset fisik untuk kerja keras, asset fikir untuk kerja cerdas, dan asset hati untuk kerja iklas. Ketiga asset tadi dimaksimalkan dengan menyontek atau merole model para talent yang ada di perusahaan, menambahi apa yang sudah dicontek, dan mengalikan yang sudah ditambahi menjadi percepatan. Contoh nya saja Jokowi, dia tidak memiliki program kerja khusus, dia hanya mencontek progran kerja wali kota Solo dan Gubernur Jakarta sebelumnya. Tidak hanya sekedar menyontek, namun Jokowi berhasil menambahi contekan nya dengan style nya sendiri dan mengalikan style dan contekan nya kepada kader PDIP yang lain, sebut saja Gubernur Jateng dan Walikota Surabaya yang merasakan hasil kali nya.


Berkah selalu

N. Kuswandi

 

Saturday, January 25, 2014

World Cafe : Menemukan Innovasi Perubahan

Jika ingin selamat dari perubahan maka setiap orang harus beradaptasi dengan perubahan. Namun, beradaptasi saja ternyata tidak cukup. Beradaptasi berarti menjadi pengekor atas perubahan, jika ingin memimpin dalam perubahan hanya ada satu hal yang perlu dilakukan yaitu berinnovasi. Contohnya saja penggunaan sistem operasi smartphone android yang menjadi primadona sistem operasi smartphone dengan pangsa pasar sebesar 43% (2011). Sistem ini pertama kali diperkenalkan oleh google pada tahun 2008. Smartphone pertama yang mendapat kesempatan merasakasan innovasi tersebut adalah HTC (T-Mobile G1). Setelah merasa kehilangan pasar, produsen smartphone yang pada awalnya menggunakan sistem operasi seperti iOS, Symbion, Windows, Bada mulai beradaptasi dengan menciptakan smartphone yang bisa ditanami aplikasi android. Akibatnya para pengikut yang survive dengan beradaptasi sudah ketinggalan start dan kehilangan pasar.
 
Innovasi bisa dilakukan dengan dua hal, menciptakan hal yang benar-benar baru atau menggabungkan dua hal yang sudah ada menjadi hal baru. Einstens adalah  inventor jenis pertama. Jika Anda pernah melihat film "Eintens and Eddington", Anda akan menemukan dialog kegigihan Einstens untuk menjadi ilmuwan yang benar-benar menemukan innovasi baru. Atau jika Anda pernah meilihat film "A Beutiful Mind", disana juga mahasiswa bernama Nash yang terobsesi menjadi inventor jenis pertama, menemukan hal baru. Berbeda dengan Einstens dan Nash, Isac Newton, orang yang lebih berpengaruh dibandingkan Isa dan Musa (versi The 100, Michael H. hart) lebih memilih menjadi inventor versi kedua.  Inilah salah satu quate nya yang terkenal tentang kemampuannya menciptakan innovasi, "Karya saya berasal dari kemampuan berdiri diatas bahu raksasa lain". Para raksasa itu adalah para Guru atau ilmuwan lain yang memberikan pengaruh terhadap karya-karya nya. Newton lebih memilih menggabungkan pengetahuan-pengetahuan yang sudah ada untuk menemukan innovasi beru.
 
Jika ingin menjadi yang terdepan memang mau tidak mau harus berdiri di depan menjadi innovator. Ada banyak metode untuk menemukan dan menciptakan ide innovasi, "The World Cafe" adalah salah satu metode baru yang dikembangkan oleh Juanita Brown and David Isaacs in 1995 dan dipopulerkan oleh Peggy Holman di tahun 2007 melalui bukunya yang berjudul The Change Handbook. Salah satu perusahaan yang sukses menggunakan metode The World Cafe untuk mengembangkan innovasi dibidang keselamatan kerja adalah Hawlett Pockard (HP). Dengan hasil innovasi yang dihasilkan, HP mampu menurunkan tingkat kecelakan sebesar 33%.
  
Sederhananya world cafe sendiri adalah sebuah metode brain storming dengan cara diskusi hidup yang menyenangkan. World cafe dimulai dengan menentukan kontek dari diskusi (Set The Context) yang akan dilakukan. Seorang cafe host akan menentukan tujuan dilaksanakan world cafe, dan objective atau goal yang ingin dicapai. Diproses pertama ini cafe host memiliki peran yang sangat penting untuk membangun mood peserta world cafe untuk ikut terlibat dan bersemangat saling belajar dan berbagi pengetahuan. Salah satu cara cafe host untuk melakukan hal tersebut adalah dengan membuat para peserta nyaman (Create Hospitable Space) seperti dengan meletakkan bunga di tengah-tengah meja. Cara lainnya adalah membuat peserta merasa equal satu sama lain. Cafe sponsor harus meyakinkan peserta tidak ada ide bodoh, semakin bodoh ide biasanya semakin menunjukkan orang tersebut melihat sisi lain, atau think out of the box.
 
Proses berikutnya cafe host akan menunjuk memberikan pertanyaan yang bisa mengkolaborasi setiap partisipan untuk menyumbangkan ide (Explore Questions that Matter).  Anggap saja world cafe yang Anda lakukan dihadiri peserta yang terbagi menjadi lima meja. Cafe host akan memberikan pertanyaan yang harus dibahas oleh semua meja tersebut. Pertanyaan nya bisa sama bisa juga berbeda untuk tiap meja.
 
Tugas cafe host diproses ini adalah memastikan semua peserta wolrd cafe terlibat untuk memberikan kontribusi untuk menjawab pertanyaan yang diberikan (Encourage Everyone's Contributions). Pastikan juga setiap kontribusi yang diberikan oleh peserta terdokumentasi. Cara yang paling mudah adalah dengan meminta para peserta menuliskan kontribusinya di lembar kertas yang sudah disiapkan. Cafe host juga harus memastikan setiap ada peserta yang berkontribusi menjawab pertanyaan yang diberikan, peserta lain mendengarkan dengan penuh empati untuk mendapatkan insight baru (Listen Together for Insight).
 
Agar peserta mendapatkan pandangan yang berbeda, peserta bisa saling tukar meja dan membaca perpective dari peserta yang duduk di meja tersebut. Prinsip ini dikenal sebagai Cross-Pollinate and Connect Diverse Perspectives. Tugas cafe host berikutnya adalah meminta para perwakilan tiap meja untuk membacakan rangkuman jawaban yang merupakan ide-ide innovasi. Graphics Professional kemudian akan merangkai ide-ide jawaban dari semua meja hingga menghasilkan ide innovasi baru (Harvest and Share Collective Discoveries)
 
Jika diperhatikan kekuatan proses menghasilkan ide innovasi dari world cafe ini adalah dari pelibaan semua peserta diskusi. Dua kepala memang susah untuk disatukan, namun jika sudah terintegrasi ide yang keluar adalah ide brilian. Frase inilah yang terjadi dari proses world cafe yang dilakukan, kepala-kepala yang mempunyai kelebihan masing-masing salaing terintegrasi menciptakan sebuah ide hebat.
 
Berkah selalu
Novianta Kuswandi

Thursday, December 12, 2013

Siapa Sensei Brain Memory?



Saat kelas dua SMP, Steve Job (13 tahun) membutuhkan cip untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Cip tadi hanya diproduksi oleh HP. Keesokan harinya, Steve Job membawa cip itu kepada kelompoknya. Semua teman-temannya bingung, Steve Job yang dikenal sebagai anak yatim piatu dan dipelihara oleh keluarga yang menengah mampu mendapatkan cip yang harganya mahal. Teman-temannya bertanya, dari mana Steve Job mendapatkan cip tadi? Steve Job menjawab "dari Bill Hewlett - salah satu pendiri HP". Teman-temannya semakin bingung, "bagaimana cara nya Steve Job memiliki akses ke Bill Hewlett?"  Steve Job menjawab, dia mendapatkan no telp Bill Hewlett dari Yellow Page. Setelah Steve Job mengobrol selama 20 menit, Bill Hewlett bersedia memberikan cip dan menawari Steve Job pekerjaan selama musim panas. Inilah awal kerjasama Appel dengan HP

Tokoh kedua yang berpengaruh terhadap kesuksesan Steve Job adalah Nolan Bushnell (CEO dan Pendiri Atari). Pada saat Steve Jobs berumur 17 tahun, ia mendatangi kantor Atari (perusahaan produsen game console). Kepada satpam yang menjaga kantor itu dia berkata ingin mencari kerja. Tapi karena penampilannya yang tidak rapi dan kurang meyakinkan, satpam tersebut mengusir Jobs. Tidak menyerah dengan penolakan satpam, Steve Job memilih duduk di trotoar hingga sore hari. Satpam itupun menyerah dan pergi menemui Nolan Bushnell. Untungnya Nolan Bushnell mau menemui Steve Job. Nolan bertanya pada Steve Jobs “Kamu mau apa?”. Jobs menjawab “Saya mau kerja”. Nolan bertanya lagi “Kamu bisa apa?”. Jobs menjawab “Saya gak bisa apa-apa, tapi saya mau kerja”. Kata kuncinya adalah "mau", Jobs mau kerja. Bushnell merespon “Ok, kalau begitu kamu jadi asisten saya saja”. Mulai saat itu Jobs menemani Bushnell ke mana setiap pertemuan-pertemuan penting dan menjadi sangat intim dengannya.
 
Lihatlah bagaimana Steve Jobs mampu menjadi orang yang gilang-gemilang pendiri mendirikan Apple Computers dan Pixar Animation Studio. Padahal pada masa kecilnya, Steve Job berasal dari seorang ibu yang menyerahkan ke lembaga adopsi, kemudian diadopsi oleh keluarga kelas menengah dengan ayah yang tidak pernah lulus SMA dan ibu yang tidak lulus kuliah. Bagaimana orang yang memiliki latar belakang biasa-biasa ini menjadi seorang millionaire pada usia muda? Salah satu jawab nya adalah orang-orang dibalik Steve Job, dari kisah diatas ternyata Steve Job memiliki dua orang guru yang membentunya melatih brain memory untuk memperbesar wadah rezeki, yaitu Bill Hewlett dan Nolan Bushnell. Steve Job belajar hardware dari orang terbaik pada saat itu yaitu Bill Hewlett sebagai pendiri HP dan belajar software dari orang terbaik saat itu yaitu Nolan Bushell.
 
Steve Job melatih brain memory nya dengan berguru pada orang-orang terbaik. Kenapa harus berguru pada orang-orang terbaik? Ada dua alasan kenapa kita harus melatih brain memory kita dengan belajar pada orang terbaik. Alasan pertama, seperti pernah saya tulis dicatatan saya berjudul "Pembajakan Brain memory", struktur psikologis manusia terdiri dari mindset, motif, attitude, dan baru menjadi behavior. Melatih brain memory berarti memasukkan informasi dari lapisan attitude ke dalam lapisan mindset untuk menjadi behavior. Sayangnya saat kita memasukkan informasi ada gerbang alam tak sadar yang menghalangi informasi tersebut kedalam mindset kita. Bagaimana cara menembus gerbang alam tak sadar tersebut? Kita bisa menembus dari lapisan behavior ataupun dari lapisan mindset. Mendobrak gerbang alam tak sadar dari luar atau dari lapisan behavior bisa dilakukan dengan tiga cara, yaitu dengan proses pembiasaan yang melibatkan penguatan reward, punishment dan modeling. Sedangkan mendobrak gerbang alam tak sadar dari dalam atau melalui lapisan mindset dapat dilakukan dengan repetition, emotion, hypnoteraphy, dan orang yang berpengaruh. Perhatikan, salah satu cara mendobrak gerbang alam tak sadar dari luar adalah dengan modeling dan salah satu cara mendobrak gerbang alam tak sadar dari dalam adalah dengan menggunakan orang yang berpengaruh. Siapa yang layak dijadikan modeling atau orang yang harusnya berpengaruh pada kita, tentunya adalah orang terbaik di bidangnya. Inilah alasan pertama kenapa kita perlu melatih brain memory dari orang terbaik. Dengan berlatih kepada orang yang terbaik akan mampu membuka gerbang alam tak sadar kita hingga pembelajaran yang dilakukan masuk kedalam mindset kita, jadilah apa yang kita pelajari menjadi Unconsciousness Competence.
 
Alasan kedua kenapa harus belajar dari yang terbaik adalah, dalam proses belajar, 10% ilmu yang kita diserap berasal dari formal education, 20% nya berasal dari learning from other, dan 70% nya berasal dari on the job learning (muscle memory). Belajar dari yang terbaik adalah bentuk pembelajaran learning from other yang akan menghasilkan internalisasi knowledge sebesar 20%. Nama lain dari belajar dari yang terbaik adalah coaching dan mentoring. Bayangkan jika kita salah mengambil coach, yang terjadi proses internalisasi melalui on the job learning (muscle memory) tentunya akan salah. Contoh ektrim nya saja, Anda ingin belajar sepak bola namun Anda belajar pada pelatih golf, apa yang akan terjadi? Wadah rezeki Anda tidak bertambah besar

Bahkan dari melihat siapa guru Anda, saya bisa menebak seberapa besar wadah rezeki Anda? Caranya, coba kira-kira omzet yang dimiliki guru yang melatih brain memory Anda. Jika Anda memiliki 10 guru, maka tambahkan semua omzet yang dicapai guru Anda selama satu bulan. Kemudian hitung rata-rata omzet semua guru Anda. Hasil perhitungan rata-rata omzet para guru Anda itulah wadah rezeki Anda.

Berkah selalu
N. Kuswandi

Sunday, December 8, 2013

Pembajakan Brain Memory

Akhirnya keluar juga komik Naruto Jilid 63 yang sudah dinanti satu bulan. Setelah habis membaca Jilid 63, entah kenapa tiba-tiba ada loncatan "sinapsis" di otak yang menghubungkan catatan "brain memory" dengan salah satu tokoh jenius di komik Naruto. Tokoh ini memiliki IQ diatas 200, kejeniusannya hanya bisa dilampaui oleh Kakasi. Walaupun sebenarnya Kakasi lebih mengakui tokoh ini lebih jenius dari pada dirinya. Siapa tokoh ini? Yup, namanya adalah Shikamaru.
 
Shikamaru sangat menggemari Shogi (catur Jepang) untuk melatih brain memory nya. Namun, coba perhatikan wajahnya yang menandakan perilaku nya. Shikamaru dikenal sebagai pribadi yang gemar tidur siang sambil memandangi awan daripada berlatih ninjutsu. Bahkan, Shikamaru menjuluki dirinya sebagai "penakut nomor satu" dan "paling jago melarikan diri," padahal dia hanya tidak ingin menggunakan kekuatannya dan malas berurusan dengan orang. Pertanyaannya, kenapa Shikamaru yang memiliki modal brain memory tidak membuat nya setenar Sasuke saat belajar di akademi?
 
Karena memang brain memory saja tidak cukup untuk memperbesar wadah energi. Brain memory harus diikuti dengan muscle memory - berlatih. Shikamaru lebih senang tidur-tidur memandangi awan daripada harus berlatih ninjutsu. Mungkin timbul pertanyaan lagi, kenapa brain memory tidak membuat Shikamaru bergerak untuk berlatih? Padahal seorang yang berilmu atau orang yang mengerti, idealnya bergerak untuk berlatih.
 
Jika kita perhatikan lapisan kepribadian manusia. Lapisan terdalam disebut sebagai belief system atau mindset, lapisan berikutnya motif, attitude dan kemudian baru muncul behavior. Hal yang harus diperhatikan adalah behavior muncul dari gabungan belief system, motif, attitude. Pada awalnya, brain memory mengasah seseorang dari kuadran conscious uncompetence menjadi kuadran unconscious competence. Brain memory pertama kali masuk melalui lapisan attitude (pernyataan evaluatif terhadap object, orang atau perilaku) menuju lapisan belief system. Kasus Shikamaru menunjukkan bahwa behavior berlatih untuk menciptakan muscle memory tidak muncul karena ada hambatan di salah satu lapisan sebelum nya. Seharusnya orang-orang yang berilmu akan memmiliki belief system yang baik dan akan mempengaruhi terjadinya perilaku sebesar 85%. Sedangkan 15% kemunculan behavior dipengaruhi oleh motif dan attitude. Contohnya orang yang memiliki mindset kejujuran, mindset ini mendukung untuk orang tersebut untuk berperilaku jujur. Namun, harus juga diingat setelah lapisan mindset ada juga lapisan motif dan attitude. Orang yang memiliki mindset jujur belum tentu berperilaku jujur, karena ada motif dan attitude. Motif yang muncul contohnya anak yang sakit dan tidak punya uang. Attitude nya atau penilaiannya kemudian menimbang-menimbang. "Hati saya sebenarnya tidak setuju jika tidak jujur, namun anak saya sakit" pikirannya menimbang-nimbang dan diputuskan "jika saya tidak mencuri maka anak saya akan meninggal". Akhirnya munculah perilaku "mencuri".
 
Begitu juga yang terjadi dengan Shikamaru, behavior nya untuk melatih muscle memory nya dipotong atau dibajak oleh tiga lapisan dibawahnya. Shikamaru sudah melatih brain memory nya hingga masuk ke dalam mindset nya hingga menjadi unconsious competence. Shikamaru memiliki motif sendiri untuk tidak melatih muscle memory nya. Sebenarnya Shikamaru sadar untuk menjadi ninja hebat dia harus melatih muscle memory nya. Namun, Shikamaru tidak memiliki motif kenapa harus menjadi Ninja hebat? Shikamaru hanya ingin menjadi ninja biasa. Dia hanya memiliki motif untuk menikah dengan perempuan yang tidak cantik tetapi juga tidak jelek, lalu punya dua orang anak. Ia juga berharap agar anak pertamanya berjenis kelamin perempuan, sedangkan anak keduanya laki-laki. Dan ia berencana setelah anak pertamanya menikah, dia akan pensiun dari dunia ninja untuk terjun ke bidang pertanian. Motif Shikamaru berubah saat orang yang berpengaruh dalam kehidupannya meninggal. Asuma yang dianggap sebagai ayah kedua nya mati dibunuh oleh Hidan B Baiu. Shikamaru menyesal, karena kemalasannya berlatih ninjutsu membuat dia tidak bisa melindungi Asuma. Setelah kejadian tersebut, Shikamaru berlatih keras dan bersama tim 10 menjadi legenda baru Ino - Shika - Cho.
 
Banyak cara untuk merubah motif kita agar brain memory kita bisa menjadi muscle memory. Apakah kita harus menunggu kejadian seperti yang dialami Shikamaru baru berubah motif kita?
 
Berkah selalu
N. Kuswandi

Wednesday, December 4, 2013

Brain Memory

 
Kita selalu berharap memiliki rezeki yang besar. Namun kenapa ada orang yang rezeqi nya besar dan ada yang rezeki nya kecil? Bahkan dalam empat bulan ini, ada saja orang yang mencaci saya gara-gara mereka kehilangan rezeki nya. Padahal bukan saya yang menghilangkan rezeki mereka. Namun berhubung saya yang mendelivery training "Adapting to Change", kena deh, saya yang menjadi tumbal kemarahan mereka. Sayang mereka tidak membaca catatan saya berjudul "Wadah Rezeki" dan "Laut Kumpulan Sungai".
 
Dicatatan "Wadah Rezeqi", saya sempat membahas bahwa banyaknya rezeqi itu ditentukan oleh wadah. Kabar baik dan buruk nya, wadah tersebut bisa membesar dan mengecil tergantung seberapa besar habit Anda. Tiga habit yang mendasari besar dan kecilnya wadah tadi adalah berilmu, beramal sholeh, dan memuliakan orang lain. Mengejar ilmu akan membentuk brain memory, sedangkan beramal sholeh dan memuliakan orang lain membentuk muscle memory.
 
Lihatlah perbedaan antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu. Contoh ekstrimnya saja, sama-sama mencuri uang. Kisah ini tentang Si Badu dan Si Dudu. Si Badu lebih pintar dari pada Si Dudu. Kepintaran Si Badu menjadikan nya sebagai pejabat desa. Sedangkan Si Dudu yang tidak begitu pintar hanya menjadi warga biasa. Dengan kepandaian Si Badu, wadah rezeqi nya besar sehingga dia mencuri uang jutaan rupiah dari kas desa. Sedangkan Si Dudu yang tidak begitu pintar hanya berkesempatan mencuri dompet orang lain, isi nya pun tidak sebesar yang didapat Si Badu.
 
Bandingkan juga orang-orang yang tidak berilmu "menjadikan penghasilan sebagai komsumsi" sedangkan orang berilmu "menjadikan penghasilan sebagai investasi penghasilan". Orang-orang yang ilmu nya kurang, tidak tahu cara memperbesar wadah mereka. Sedangkan, orang-orang berilmu mengetahui cara memperbesar wadah rezeki mereka dengan berinvestasi.
 
Pertanyaannya adalah ilmu apa yang perlu dipelajari untuk memperbesar wadah rezeki? Ingat bahwa Kitab Babon Sukses kita Al Ashr, sebenarnya semua orang bisa menjadi apapun asalkan bisa mengalahkan atau bergerak mendekati cahaya. Begitu juga dengan urusah rezeki, Nabi pun juga berkata yang sama
“Sesungguhnya rezeki itu akan mecari seseorang dan bergerak lebih cepat daripada ajalnya.”
HR. Thabrani
Kuncinya untuk bisa bergerak lebih cepat dari cahaya yang pertama adalah berilmu. Menurut Marshall Sylver dalam bukunya, Passion, Profit & Power ternyata 90% uang yang beredar di dunia hanya dikuasai 5% populasi. Dan lebih mengujutkan lagi, 1% dari 5% populasi tersebut mengguasai 50% uang yang beredar itu. Bila uang yang ada di dunia ini dibagi rata-rata kepada semua orang, setiap orang akan menerima $2.400.000 (Wealth Mastery, Singapura 2001). Lebih menyedihkan lagi dalam waktu lima tahun setelah seluruh uang di dunia dibagi rata, komposisi kepemilikan akan kembali seperti semua - 90% uang dikuasai oleh 5%, dan 1% dari 5% itu menguasai 50% uang yang beredar.

Pertanyaannya adalah kenapa hal ini bisa terjadi? Jawaban sederhananya, karena 5% orang tadi sudah mengetahui ilmu nya. Mungkin rekan-rekan ingat cerita Abdurrahman bi Auf. Sebelum berhijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai saudagar kaya. Saat Sang Nabi berhijrah, Abdurrahman meninggalkan semua kekayaannya di Mekkah. Beliau hanya membawa seekor unta dan baju ke Medinah. Sampai di Mednah, Abdurrahman dipersaudarakan dengan Saad bin Rabi. Menariknya, Abdurahman setelah dipersaudarakan menolah tawaran Saad bin Rabi yang akan membagi 50% harta kekayaannya kepada Abdurrahman. "Terimakasih atas kebaikanmu ya Saad, cukuplah kebaikanmu kepadaku dengan menunjukkan dimana pasar berada" begitu kira-kira Abduraahman menjawab tawaran Saad bin Rabi.

Dan memang wadah rezeki orang yang besar dengan brain memory nya yang terus menerus dilatih menjadikan Abdurrahman bin Auf kembali menjadi saudagar kaya. Bahkan, di suatu hari Beliau menjual tanah seharga 40.000 dinar, kemudian uang itu dibahagi-bahagikannya semua untuk keluarganya dari Bani Zuhrah, untuk para isteri Nabi dan untuk kaum fakir miskin. Di lain hari diserahkannya pula 500 ekor kuda untuk perlengkapan bala tentera Islam, dan di hari yang lain 1500 kendaraan. Bahkan salah satu harta perdagangannya yang menjadi fenomena adalah saat Abdurrahman bin Auf menyumbangkan 700 kendaraan yang syarat dengan harta perdagangan kepada. Menariknya lagi, walaupun Beliau menyumbangkan banyak harta kekayaannya, Beliau sampai meninggal tidak pernah miskin. Menjelang wafatnya, Abdurrahman bin Auf masih mewariskan 50.000 dinar untuk jalan Allah, dan mewasiatkan pula bagi setiap orang yang ikut perang Badar dan masih hidup, masing-masing mendapat 400 dinar, hingga Utsman bin Affan r.a yang terbilang kaya juga mengambil bahagiannya dari wasiat itu, serta katanya, “Harta Abdurrahman bin ‘Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa selamat dan berkah".

Kenapa Abdurrahman bin Auf bisa mengembalikan kekayaannya yang ditinggalkannya di Mekah? Lagi-lagi karena latihan brain memory nya untuk memperbesar wadah rezeki.

Sunday, December 1, 2013

Wadah Rezeqi

Dua tahun berturut-turut (1985 dan 1986), Evelyn Adams memenangkan hadiah New Jersey sebesar $5,4 Juta atau jika $1 senilai dengan Rp 10.000, maka Evelyn Adams mendapatkan hadiah senilai Rp 54 Miliar. Menariknya, Evelyn Adams menghabiskan semua uang nya tanpa sisa. Diakhir hidupnya dia harus hidup di sebuah trailer park.

William "Bud" Post melakukan hal yang lebih gila lagi, karena dia memenangkan hadiah dari Pennsylvania sejumlah $16,2 Juta atau setara dengan Rp 162 Miliar. Dia kemudian menginvestasikan uangnya untuk bisnis mobil dan restoran. Setahun kemudian, Bud berhutang $1 Juta dan dinyatakan bangkrut. Saat ini, Bud hidup dengan jaminan sosial pemerintah.

Sebaliknya, di tahun 1990, seorang pengusaha property mengalami kemerosotan sedemikian parah hingga harus menanggung hutang perusahaan sebesar $3,5 juta dam hutang pribadi sebesar $900 juta. Lima belas tahun kemudian, tepatnya di tahun 2005, majalah Forbes memasukkan nama orang ini ke dalam daftar 400 orang terkaya di Amerika. Dia mengubah hutang $903,5 juta menjadi keuntungan bersih sebesar 2,7 miliar. Pengusaha ini bernama Donald Trump.

Pengalaman hidup di atas menjadikan saya semakin yakin bahwa manusia memiliki wadah untuk menampung rezeki. Ada orang yang memiliki wadah besar sehingga bisa menampung banyak rezeki, dan ada orang yang memiliki wadah kecil hingga sedikit pula rezeki yang ditampung. Anggap saja ada seseorang yang memiliki wadah kecil dan hanya mampu menyimpan air 1,5 L. Walaupun, wadah tadi diisi oleh air yang selalu mengucur dari keran, tetap saja wadah tadi hanya bisa menyimpan 1,5 L air saja.

Evelyn Adam dan William "Bud" Post adalah contoh-contoh orang yang wadah rezeki nya kecil. Hadiah jutaan dolar yang mereka terima, tidak membuat hidup mereka nyaman dibelakang hari. Karena wadah rezeki mereka yang kecil, tidak mampu menyimpan rezeki melebihi wadahnya. Cerita mereka berdua berbeda dengan Donald Trum yang memiliki wadah besar. Seterpuruk apapun Donald Trump, wadah nya yang besar menginginkan untuk diisi.

Perhatikan juga acara reality show di RCTI yang sempat naik daun di tahun 2009 berjudul Uang Kaget. Acara yang dipandu Helmi Yahya ini memberikan uang Rp 10 juta kepada target acara yang kemudian diminta untuk menghabiskan dalam waktu 30 menit. Perhatikan barang-barang yang dibeli oleh para target. Rata-rata mereka membeli beras, TV, Kulkas, dan barang-barang konsumtif lainnya. Walaupun ada juga target acara yang terlihat memiliki wadah rezeki yang lebih agak besar dengan membeli emas. Barang yang dibeli oleh target sebenarnya juga menunjukan seberapa besar wadah rezeki yang dimiliki oleh seseorang. Orang-orang dengan wadah rezeki kecil menghabiskan rezeki untuk menghabiskan waktu untuk membeli barang-barang konsumtif. Sedangka orang dengan wadah rezeki besar menghabiskan waktu untuk membeli barang-barang investasi.

Beruntung ada kabar baik yang sekaligus kabar buruk untuk Anda, wadah rezeki tadi bisa menjadi lebih besar dan lebih kecil. Perkembangan wadah rezeki tergantung dari perilaku atau habbit kita. Semakin jelek habit kita maka semakin wadah kita kecil, dan semakin baik habit kita maka akan semakin besar wadah rezeki kita. perhatikan filosofi wadah rezeki berikut;


Rezeki sudah ditetapkan oleh Tuhan.
Bukan pada jumlahnya, tapi pada caranya
Dia yang malas akan dimalasi rezeki
Dia yang baik hati, rajin, jujur sering dikunjungi oleh rezeki yg kangen
Dia yang bermanfaat bagi sesama, rezekinya langsung & khusus dari Tuhan
Sebelum menyalahkan rezeki sebaiknya kita memeriksa ketetapan sikap kita


Habit baik tidak diturunkan, namun harus dilatih. Sesuai dengan Kitab Babon Rahasia Sukses, habit diperoleh dari berilmu, beramal sholeh dan ditutup dengan memuliakan orang lain. Mengejar ilmu akan membentuk brain memory dan beramal sholeh dan memuliakan orang lain sebenarnya bagian dari berlatih mempraktekan. Latihan-latihan tadi akan membentuk myelin (muscle memory). Manusia yang mengasah brain memory­-nya saja akan menjadi manusia formula, dan manusia yang mengasah muscle memory-nya saja akan bergerak secara reflektif otomatis. Gabungan antara keduanya akan memunculkan sebuah daya saing yang berlimpah dalam bentuk nilai-nilai yang intangible, serta perubahan tangible dahsyat yang akan berbeda dibandingkan dengan orientasi-orientasi sebelumnya.  
 
Berkah selalu
N. Kuswandi